Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Telekomunikasi’ Category

Ada beberapa topik yang ingin kuanalisa dalam perancangan Rake Receiver ini. Beberapa topik yang mungkin bisa mulai kupelajari dan kuanalisa lebih lanjut adalah:

  1. Integrator
  2. S/H
  3. Fungsi Rake Receiver
  4. Pemilihan Jumlah Finger Rake Receiver
  5. Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Jumlah Finger

Untuk analisa lebih lanjut, diperlukan pemahaman akan teori CDMA baik dari sisi pembangkitan sinyal yang ditransmisikan transmitter, maupun apa yang dialami oleh sinyal yang melewati media udara sebelum sampai di receiver dan di demodulasi dan dikembalikan ke format data semula.

Dalam kenyataannya, sinyal akan mengalami pelemahan yang besarnya relatif signifikan dan sangat mengganggu proses pemulihan data di sisi penerima. Besarnya gain di bagian Rake Receiver, ditentukan oleh kuat lemahnya atenuasi yang dialami oleh sinyal di media transmisi.

Read Full Post »

Dalam komunikasi seluler kita mengenal kata roaming. Sebenarnya apa sih arti roaming?

Roaming adalah proses pergantian layanan dari Home Network ke Other Network. Nah, masalahnya adalah di negara kita ini, istilah roaming telah disalah kaprahkan menjadi perpindahan lokasi layanan. Pengertian Home Network di sini diartikan sebagai jaringan tempat di mana nomor pelanggan itu diterbitkan, sedangkan wilayah lain akan menjadi jaringan untuk roaming.

Tentu saja hal ini harus diklarifikasi oleh para pakar dan pelaku bisnis telekomunikasi. Roaming seharusnya diartikan sebagai perpindahan suatu pelanggan dari jaringan milik operator asal (Home Network) ke jaringan milik operator lain. Masalah yang dihadapi adalah, di negara kita belum ada kerjasama untuk melakukan roaming antar operator sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan roaming tersebut.

Sebagai contoh:
User A adalah pelanggan operator ZZZ di kota Yogyakarta.
Dengan menggunakan definisi roaming yang benar, maka user A akan dikatakan melakukan roaming jika dia menggunakan jaringan milik operator YYY di manapun dia berada, tidak peduli dia masih di Yogyakarta, ataukah pergi keluar kota, bahkan keluar negeri.

Dengan menggunakan definisi roaming di Indonesia sekarang, makan user A dikatakan melakukan roaming ketika dia pergi keluar kota, misal ke kota Jakarta dan masih tetap menggunakan jaringan milik operator ZZZ. Mekanisme penggunaan jaringan bersama memang belum diterapkan di Indonesia. Di luar negeri, user bisa bebas memilih untuk menggunakan operator mana yang akan digunakannya saat akan melakukan panggilan.

Kira-kira, kapan ya di Indonesia diterapkan seperti itu? :P

Read Full Post »

Penerima rake

 

 

Penulis mendesain pemodelan untuk blok diagram rake receiver dengan tujuan untuk mengetahui perilaku sistem rake receiver CDMA dalam mengatasi adanya fenomena lintasan jamak dan fading dalam suatu transmisi sinyal CDMA. Sistem penerima rake sangat membantu untuk mengatasi fenomena lintasan jamak yang pasti terjadi dalam transmisi data lewat medium udara.

 

Sistem kerja dari penerima rake ini adalah kebalikan dari sistem kerja lintasan terhadap sinyal yang ditransmisikan. Mari kita lihat apa saja sih yang dialami suatu sinyal yang ditransmisikan lewat udara ke penerima sebelum sampai di antena penerima? Berikut beberapa fenomena yang seringkali dialami suatu sinyal yang ditransmisikan oleh transmitter:

  • scattering
  • reflection
  • refraction

Dengan adanya peristiwa di atas, maka sinyal akan menjadi berubah dengan adanya beberapa tambahan:

  1. Delay time (waktu tunda)
  2. Attenuasi (pelemahan)
  3. Perubahan fase

Hal ini tentu sangat mengganggu dalam proses pemulihan sinyal di penerima. Maka dengan menggunakan penerima rake, sinyal akan dikembalikan sedemikian sehingga sinyal asal seperti yang ditransmisikan oleh transmitter akan bisa diperoleh oleh user.

Beberapa hal yang dilakukan oleh penerima rake yaitu:

  • Melakukan pemilahan sinyal
  • Menguatkan sinyal yang diterima (gain)
  • Mengatur delay time
  • Sinkronisasi timing sinyal yang diterima
  • Penjumlahan sinyal dari beberapa lintasan berbeda menjadi satu

Penerima RAKE terdiri atas beberapa finger yang masing-masing mampu menangani sinyal dari lintasan berbeda-beda. Jika penerima rake memiliki 5 finger, maka penerima rake ini akan mampu menangani (memulihkan) 5 buah sinyal dari lintasan berbeda untuk kemudian diolah dan dijumlahkan di bagian SUM di bagian belakang penerima rake.

Dalam prakteknya, ada begitu banyak sinyal dengan lintasan yang sangat banyak pula namun dengan jumlah finger rake yang terbatas untuk mengakomodasi keseluruhan sinyal. Dengan demikian, penerima rake hanya akan memproses sinyal-sinyal dengan waktu tunda tertentu dari lintasan tertentu, sedangkan sinyal dari lintasan lainnya akan dibiarkan tanpa diolah lebih lanjut.

Jumlah sinyal dari lintasan jamak ini akan diperhitungkan sedemikian sehingga dengan jumlah tertentu data yang ditransmisikan akan bisa dibangkitkan dengan baik di bagian akhir penerima rake. Selanjutnya setelah proses penguatan, integrasi, dan tahan untuk menyamakan waktu tunda, sinyal-sinyal yang diolah oleh penerima rake akan dijumlahkan menghasilkan data yang ditransmisikan oleh pengirim.

Regards,

Riyantoro

Read Full Post »

Rake Receiver

Posting lanjutan tentang teorema RAKE Receiver CDMA.

Berhubung hari ini baru saja sedikit berkutat lagi dengan hardware, mari sharing sambil mengingat-ingat dan membuka memory kita. Hmm, mulai dari mana ya? Mungkin langsung ke point RAKEnya ajah ya..

Rake menerima input sinyal dari media transmisi dalam hal ini tentu saja dari udara dengan path yang berbeda-beda menghasilkan pengaruh multipath di dalam sinyal yang harus kita hilangkan. Rake Receiver di sini berfungsi untuk mengeliminasi/meminimalisir pengaruh multipath fading yang mengurangi kualitas sinyal secara signifikan.

Data sinyal yang diterima berupa data yang dikalikan dengan kode PN (Pseudo Noise), yaitu kode yang membedakan antara user A dengan user B, serta user lainnya. Selain itu, data ini akan memiliki timing yang berbeda-beda dalam hal nilai tundanya. Mungkin saja singal A datang dengan lintasan LOS sehingga bisa tiba dalam waktu t+1 tetapi apa yang dialami sinyal lainnya?

Sinyal B mungkin saja menemukan lintasan yang membentur satu gedung sebelum akhirnya tiba di penerima (antena penerima) dan tiba dengan waktu tunda t+2. Jika kita menjumlahkan kedua sinyal ini secara langsung, maka kita tidak akan bisa membangkitkan kembali data yang ditransmisikan di pengirim. Ingat, data yang dikirimkan tadi dikalikan dengan PN dahulu sebelum ditransmisikan ke media udara bebas.

Nah jika ada 4 sinyal dengan lintasan/path yang berbeda akan menghasilkan sinyal diterima dengan timing/waktu tunda yang berbeda-beda pula. Fenomena ini sangatlah lazim dan pasti terjadi karena sinyal yang langsung melintasi jalur LOS ke user sangatlah jarang , ingat ya JARANG!

Kemudian, untuk menjumlahkannya kita gunakan RAKE Receiver. Sebelum melakukan penjumlahan maka ada beberapa langkah awal yang akan dilakukan terhadap sinyal tersebut. Pertama, kita lepaskan data yang diterima dari PN yang ‘menempel’. Caranya adalah dengan mengalikannya dengan kode PN yang sama dengan kode PN yang dikalikan dengan data di pengirim. hasilnya, adalah data mentah tanpa PN. Kemudian data ini akan masuk ke bagian Integrator yang akan melakukan proses integrasi terhadap sinyal data.

Data kemudian akan masuk ke bagian S/H yang akan melakukan sampling dan menahan/hold data. Nah kemudian sebelum kita jumlahkan, kita pastikan bahwa data ini memiliki level daya yang cukup dengan menambahkan Gain. Terakhir adalah dengan melakukan penjumlahan dengan SUM yang menggunakan timing dari waktu tunda dari data yang terakhir diterima dan akan dijumlahkan.

Maksudnya bagaimana? Begini..
Misalnya sinyal yang diterima ada empat macam:
sinyal A ==> path A t+1
sinyal B ==> path B t+2
sinyal C ==> path C t+3
sinyal D ==> path D t+4
maka jika kita akan menjumlahkan keempat sinyal ini kembali untuk membentuk data awal yang dikirimkan pengirim, kita gunakan timing t+4 untuk clock bagian SUM kita. Dengan demikian, proses penjumlahan sinyal akan dilakukan sesaat ketika data terakhir tadi, sinyal D diterima dan masuk ke bagian RAKE Receiver.

Nah dari sini kita telah memperoleh data kita kembali. Bingung?? Sama donk… :D

Read Full Post »

GSM, Global System for Mobile adalah salah satu teknologi telekomunikasi seluler yang sudah sangat mapan khususnya di Indonesia. Pelanggan GSM sudah tersebar hingga ke pelosok desa terutama pelanggan salah satu operator GSM terbesar yang telah membangun BTS hingga ke pelosok desa di seluruh tanah air.

GSM Network

 

 

 

 

 

GSM di Indonesia berjalan di dua frekuensi yaitu 900 MHz dan 1800 MHz. Sebenarnya ada satu frekuensi lagi yaitu frekuensi 1900 MHz,
namun di Indonesia justru digunakan untuk menggelar jaringan CDMA kecuali salah satu operator baru GSM yang memakai frekuensi 1900 MHz. Operator baru itu adalah Hutchison dengan nama pasaran Three ( 3 ), yang menjalankan teknologi 3G di samping teknologi GSM.

Di frekuensi 900 MHz, GSM memiliki 140 slot kanal frekuensi pembawa dengan rentang nilai frekuensi:

  • uplink : 890 MHz – 915 MHz
  • downlink : 935 MHz – 960 MHz

Nilai rentang frekuensi untuk tiap slotnya adalah sebesar 200 kHz. Karena penggunaan frekuensi ini tidak akan mampu memenuhi tuntutan pelanggan, mengingat pertumbuhan jumlah pelanggan yang sangat pesat, maka digunakan mekanisme frekuensi re-use. Mekanisme ini akan mengulang penggunaan frekuensi yang sama di suatu BTS yang memiliki jarak aman tertentu. Seorang Optimization Engineer suatu operator akan bertanggung jawab untuk mendesain jaringannya dan penggunaan frekuensi bersama agar diperoleh desain jaringan yang paling optimal.

Untuk meningkatkan kapasitas kanal GSM, maka digunakan frekuensi selain 900 MHz, yaitu frekuensi 1800 MHz. Penggunaan frekuensi ini akan meningkatkan kemampuan untuk melayani pelanggan GSM tetapi memiliki sisi negatif karena daerah cakupan suatu BTS akan menjadi semakin sempit. Hal ini dikarenakan oleh pengaruh penggunaan frekuensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan frekuensi 900 MHz tadi. GSM di frekuensi 1800 MHz biasa dikenal sebagai DCS (Digital Celluler System) 1800.

Pada DCS 1800, ada 374 kanal frekuensi pembawa yang bisa digunakan untuk melayani pelanggan GSM. Kanal-kanal itu dibagi menjadi:

  • uplink : 1720 MHz – 1785 MHz
  • downlink : 1805 MHz – 1880 MHz

DCS 1800 biasa diterapkan di daerah perkotaan di mana diperlukan kapasitas pelayanan yang sangat besar karena jumlah pelanggan yang relatif banyak. Berikutnya untuk melayani pelanggan dengan jumlah yang lebih besar lagi, maka digunakan frekuensi yang lebih besar yaitu frekuensi 1900 dan dikenal dengan PCS (Personal Communication System) 1900. PCS 1900 akan memiliki coverage area yang lebih sempit tetapi dengan kapasitas yang lebih besar untuk melayani pelanggan jika dibandingkan dengan kapasitas sel DCS 1800 maupun GSM 900.

Eksistensi teknologi ini di Indonesia semakin nyata karena ketangguhan dan juga dukungan jaringan yang sudah sangat merata, jika dibandingkan dengan teknologi baru CDMA. Dengan demikian akan memerlukan strategi jitu dan waktu yang relatif lama untuk bisa mengalahkan pangsa pasar GSM. Walaupun dari sisi harga jelas GSM kalah bersaing. Dari sisi biaya instalasi perangkat baru juga GSM memang memerlukan biaya ekstra.

Kita lihat saja ke depan, apakah persaingan kedua layanan ini akan semakin seru. Mengingat pangsa pasar yang masih menggairahkan dan belum mencapai titik jenuh.

Mau terus dunia telekomunikasi Indonesia!

Read Full Post »

GSM

GSM adalah teknologi telekomunikasi seluler yang paling populer di Indonesia. Teknologi ini menjanjikan kapasitas yang relatif kecil dibandingkan dengan teknologi CDMA tetappi karena penetrasi pasar yang sudah jauh lebih besar daripada teknologi CDMA, maka teknologi GSM menjadi teknologi yang sangat sukses menyelenggarakan layanan telekomunikasi.

GSM – Global System for Mobile, mengalahkan CDMA – Code Division Multiple Access untuk sementara ini. Gaung WCDMA a.k.a. 3G yang mengusung teknologi CDMA di dalamnya pun masih simpang siur dan belum mampu menggeser GSM dalam percaturan dunia telekomunikasi Indonesia. Tampaknya, teknologi GSM sudah mengakar dan sangat perkasa untuk ditaklukkan.

Spesifikasi Teknis:

  • Uplink 890 MHz – 915 MHz
  • Downlink 935 MHz – 960 MHz
  • Duplex Spacing 45 MHz
  • Carrier Spacing 200 MHz
  • Modulasi GMSK
  • Metode Akses FDMA- TDMA

Alokasi Frekuensi untuk 3 Operator Terbesar:

  1. Indosat/Satelindo : 890 – 900 MHz (10MHz)
  2. Telkomsel : 900 – 907.5 MHz (7.5MHz)
  3. Excelcomindo : 907.5 – 915 MHz (7.5MHz)

Jaringan GSM Alokasi untuk untuk Hutchison (3) ada di pita 1900MHz, sampai sekarang penulis belum tau di kanal berapa Huchison bekerja.

Dalam tiap operator GSM biasanya memiliki divisi Optimisasi yang bertugas untuk melakukan optimisasi jaringan GSM dengan cara mengatur pola frekuensi re-use dalam jaringan. Frekuensi re-use dalam GSM digunakan untuk menghindarkan interferensi dari dua BTS dengan frekuensi kerja yang sama. Dengan mekanisme frekuensi re-use maka interferensi bisa dihindari.

Dalam teknologi GSM, pengguna jasa yang sedang melakukan pembicaraan akan diberi alokasi 1 slot kanal untuk melakukan pembicaraan. Hal ini memungkinkan kita memiliki kanal sendiri saat sedang berbicara tanpa bisa diganggu oleh pengguna lain. Namun, dengan demikian maka jumlah kanal yang tersedia akan terbatas dan berakibat jumlah pembicaraan (user) yang mampu dilayani oleh suatu BTS akan berjumlah tertentu.

Namun demikian, dalam GSM antara pengguna satu dengan lainnya tidak saling menginterferensi seperti halnya dalam komunikasi CDMA. Hal ini memberikan hasil suara yang lebih jernih dan nyaman.

Read Full Post »

BTS, Base Transceiver System adalah perangkat dalam suatu jaringan telekomunikasi seluler yang berbentuk sebuah tower dengan ketinggian tertentu lengkap dengan antena pemancar dan penerima serta perangkat telekomunikasi di dalam suatu shelternya.

BTS

BTS sangat penting dalam suatu jaringan telekomunikasi, karena menghubungkan jaringan suatu operator telekomunikasi seluler dengan pelanggannya. BTS memiliki daerah cakupan yang luasannya tergantung dari kuat lemahnya pancaran daya dari sinyal yang dikirimkan ke pelanggan. Selain itu, faktor lingkungan dan interferensi dari BTS operator lain juga cukup berpengaruh pada kemmapuan BTS dalam mengcover daerah yang luas.

BTS memiliki beberapa tipe antena dengan fungsi yang berberda-beda. Secara umum dibagi menjadi dua, antena ke arah pelanggan dan antena ke arah BSC atau BTS lain.

Pasolink

Minilink akan memancarkan daya ke arah BSC, BTS lain atau perangkat BTS milik operator lainnya, terantung posisi dan peran yang dijalankannya dalam suatu jaringan telekomunikasi seluler (GSM dan 3G). Ukuran dari Minilink dan Pasolink ini akan tergantung dari kapasitas dan kemampuan dari perangkat itu. Semakin besar kapasitas bandwidth suatu Minilink/Pasolink maka ukurannya akan menjadi semakin besar juga.

Struktur jaringan GSM secara umum bisa digambarkan sebagai berikut:

  •  BTS
  • BSC
  • MSC

Suatu BTS mampu menampung permintaan panggilan beberapa user tergantung dari settingan awal dan kepadatan populasi coverage areanya. Biasanya di daerah 
perkotaan yang padat trafiknya akan digunakan DCS dengan frekuensi 1800 MHz

Read Full Post »

GGSN

GGSN adalah Gateway GPRS Support Node.
GGSN menjalankan fungsi routing dalam jaringan GPRS. Untuk akses ke jaringan yang ada di luar jaringan lokal maka GGSN menjalankan fungsi router IP. Fungsi 
firewall dan filtering juga dijalankan selain
fungsi billing yang dijalankan.

Dalam suatu jaringan GPRS yang dibangun oleh suatu operator telekomunikasi, GGSN menjalankan fungsi yang penting dan sangat vital.

Read Full Post »

Jika kita bertanya tentang kapasitas layanan yang mampu diberikan oleh layanan telekomunikasi seluler CDMA, maka tidak ada angka pasti seperti jika kita membahas kapasitas pada GSM. :)

Well, kita harus tau bahwa salah satu keunggulan CDMA dibandingkan dengan teknologi GSM adalah penggunaan satu frekuensi bersama sehingga lebih efisien dan hemat dalam penggunaan pita frekuensi yang jumlahnya terbatas. Para pembaca tau khan kalau pita frekuensi yang kta gunakan terbatas jumlahnya dan sangat tidak mungkin diperbaharui :p

Nah, berangkat dari pernyataan CDMA menggunakan satu frekuensi, maka kita bisa melakukan pemikiran tentang batasan jumlah user yang mampu dilayani suatu BTS. Kita bisa mengumpamakan bahwa BTS dan coverage area-nya adalah sebuah kelas di mana ada beberapa mahasiswa yang berkumpul dan bercakap-cakap satu sama lain, tetapi anggap bahwa tiap mahasiswa memiliki pasangan berbicara sendiri-sendiri.

gsm capacity

Nah, dalam CDMA bisa diumpamakan sebagai kelas dengan sejumlah mahasiswa yang bercakap-cakap secara bersamaan, ingat, secara simultan dalam waktu bersamaan! dengan bahasa berbeda.

Kenapa dipilih perumpamaan seperti itu? Karena perumpamaan ini sangatlah pas untuk menggambarkan yang terjadi dalam komunikasi berbasis CDMA. Dalam CDMA tiap user dibedakan dengan kode acak semu (PN = Pseudorandom Noise), yang kita umpamakan sebagai bahasa yang berbeda di sini. Nah dengan demikian tiap user tidak akan saling mengganggu atau saling menguping karena penggunaan bahasa berbeda hingga level daya tertentu. Ingat, tidak saling ganggu hanya terjadi hingga level tertentu, tetap ada batasnya :p

Saat hanya ada beberapa user(sedikit), maka komunikasi bisa berjalan dengan baik. Kemudian saat jumlah user yang melakukan percakapan semakin banyak maka user akan meningkatkan level daya yang dikirim untuk sedemikian sehingga akan diperoleh kualitas pembicaraa terbaik. Hal in sama dengan kejadian yang ada di kelas perumpamaan tadi. Semakin ramai mahasiswa berdatangan dan melakukan pembicaraan maka mereka akan berbicara semakin keras sedemikian sehingga lawan bicara masih bisa saling berkomunikasi.

Suatu saat akan tiba masanya di mana ada user yang tidak sanggup menaikkan level daya lagi untuk menyekenggarakan pembicaraan/komunikasi. Saat seperti ini biasanya dialami oleh pelanggan yang berjarak relatif jauh dari BTS. Ini \lah yang sering disebut sebagai pengecilan ukuran sel cakupan suatu BTS (cell breathing). Maaf sebelumnya, penulis belum bisa mencari gambar yang sesuai untuk menjelaskan fenomena ini.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jumlah user yang mampu dilayani oleh BTS dengan teknologi CDMA akan tergantung dari jumlah interferensi dari user lain. Semoga sedikit uraian singkat ini akan memberikan gambaran kepada temen-temen sekalian

Salam,

Read Full Post »

CDMA Cell Breathing

cdmaFenomena CDMA Cell Breathing adalah fenomena yang ada dalam sistem telekomunikasi seluler berbasis CDMA.

 Suatu ketika Penulis ditanya tentang telepon seluler CDMA, kenapa kalau dipakai untuk menelepon berlama-lama menjadi sangat panas? Hmm, Penulis mencoba berpikir dan memakai logika berdasarkan kuliah telekomunikasi yang pernah penulis ambil sebelumnya. Perangkat CDMA selalu berusaha memperoleh kuat sinyal yang memugkinkan untuk berkomunikasi kapanpun dan dimanapun. Tidak peduli berapa jarak terhadap BTS (Base Transceiver System) dan bagaimana kondisi lingkungan apakah terhalang oleh gedung dan pepohonan ataukah justru LOS (Line Of Site).

 Di dalam komunikasi CDMA, kuat lemah sinyal yang diterima oleh handset kita akan berbeda dan bervariasi tergantung posisi dan jarak terhadap BTS. Nah, di sinilah penyebab kenapa handset kita menjadi panas saat digunakan untuk melakukan pembicaraan. DI sisi BTS, kuat lemah sinyal yang diterima dari handset berbeda-beda. Sinyal yang lemah kemudian akan tertutup dan kalah oleh sinyal yang lebih kuat.

Sinyal dengan intensitas tinggi (kuat) berasal dari handset CDMA dengan lokasi yang relatif lebih dekat ke BTS sedangkan sinyal yang lemah berasal dari handset dengan jarak yang relatif jauh dari BTS. Di sinilah peran penting teknologi Kendali Daya (Power COntrol) di dalam mengatur kuat sinyal (power) tiap handset agar seimbang dan tidak menutupi sinyal dari handset lain yang relatif kecil.

Panasnya handset CDMA kita diakibatkan karena handset kita berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kuat sinyalnya agar cukup untuk melakukan komunikasi dengan BTS tanpa interferensi (kalah) dengan sinyal dari handset pelanggan lain. Semakin jauh dari BTS, maka handse CDMA akan menjadi semakin panas. Di sinilah fenomena cell breathing berperan

Cell breathing terjadi karena proses interferensi antar handset CDMA di dalam suatu coverage area. Suatu handset dengan jarak relatif dekat dengan BTS akan memiliki kemampuan interferensi yang besar terhadap handset yang jauh letaknya terhadap BTS. Suatu saat di mana interferensi handset terdekat sedemikian tinggi hingga handset terjauh tidak mampu lagi mentolerir interferensi itu, maka terjadilah call dropped. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ukuran sel yang masih masuk dalam coverage area BTS menjadi semakin sempit. Dalam istilah telekomunikasi, fenomena ini dinamakan sebagai cell breathing.cdma1

Semoga sedikit uraian dan tulisan ini memberikan gambawan kepada rekan2 semua

Salam,

Riyantoro

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 42 other followers