Dunia Telekomunikasi Seluler sedang lesu, ya belakangan ini pasar telekomunikasi mulai jenuh bukan karena pasar yang terlalu banyak pemain (operator) tetapi karena kue yang dibagi-bagi mulai habis dan tinggal menyisakan sedikit remah-remah yang susah dijangkau.
Tahun 2011 adalah masa penuh perjuangan bagi para pekerja di bidang telekomunikasi, baik di sisi operator, vendor, sub kontraktor, dealer, maupun pelaku bisnis yang masih berkecimpung di bidang ini. Ya, kue yang dulu begitu empuk dan nikmat mulai habis dibagi-bagi. Sedikit demi sedikit daerah yang belum dijamah teknologi telekomunikasi seluler mulai dikenalkan dengan kecanggihan teknologi seluler dari layanan voice, sms, video, hingga data dengan kecepatan tinggi.
Apa yang tersisa saat ini tinggal sepotong kecil kue di beberapa pelosok yang membutuhkan effort yang tidak sedikit untuk bisa menikmatinya. Sepotong kue pasar itu adalah daerah-daerah terisolir yang masih belum terjamah jaringan telekomunikasi seluler baik GSM/CDMA. Tentunya butuh biaya dan investasi awal yang tidak murah untuk bisa membuka layanan telekomunikasi seluler di daerah tersebut karena selain akses yang sulit, revenue yang mungkin diperoleh pun tidak sebesar pasar di daerah perkotaan.
Bagaimana efek domino pasar yang lesu ini bagi vendor penyedia perangkat telekomunikasi? Dampak secara langsung tidak bisa dikatakan ada, tetapi secara tidak langsung tetap ada dampak signifikan terhadap angka penjualan perangkat oleh tiap vendor. Dengan mulai jenuhnya pasar, maka operator memutar otak bagaimana caranya untuk memperoleh pertumbuhan pelanggan dan revenue yang tetap tinggi, tetapi tentunya dengan biaya dan investasi yang semakin rendah. Solusi yang harus ditempuh tentunya dengan menekan biaya produksi, tetapi juga harus memberikan tarif murah kepada pelanggan sehingga bisa bersaing dengan kompetitor.
Dengan strategi tersebut, mau tidak mau perangkat yang digunakan harus ditekan biaya pembeliaannya. Vendor dengan harga yang tinggi harus legowo disingkirkan oleh vendor yang berani menawarkan biaya dan service yang lebih murah. Ujung-ujungnya, swap perangkat pun terjadi di mana-mana. Perangkat vendor A harus rela diswap oleh perangkat vendor B yang harganya terlihat tidak masuk akal, dengan teknologi yang lebih maju, harga perangkat vendor B bisa 3 kali lebih murah How come? Hmm, 1 answer: China product with it’s own quality..
Tidak hanya 1-2 operator yang menempuh cara ini untuk tetap bisa eksis bersaing di bisnis telekomunikasi, ini adalah tuntutan pasar. Operator yang masih ngotot menggunakan tarif tinggi dan perangkat mahal akan kalah dalam persaingan, karena pelanggan sudah terbuai dengan perang tarif yang terus dipertontonkan para operator. Dari perang operator ini, pelanggan bisa diuntungkan dengan skema tarif yang kompetitif, tinggal memilih yang sesuai kebutuhan dan kemampuan.
Dari sisi pekerja dan kuli telekomunikasi bagaimana? Dari info mulut ke mulut dan pengamatan teman-teman saya yang berkecimpung di dunia vendor, terjadi migrasi besar-besaran para pekerja kerah putih maupun pekerja kasar bisnis telekomunikasi dari vendor Eropa ke vendor China. Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa vendor Eropa mulai tergusur kepopulerannya di Indonesia. Vendor-vendor besar dari daratan Eropa harus legowo posisinya digeser oleh vendor China yang harga perangkat dan servicenya jauh di bawah harga yang mereka tawarkan kepada operator. Bukan hanya pangsa pasarnya yang dibajak, bahkan SDMnya pun satu per satu dibajak dengan iming-iming gaji yang lebih besar tentunya.
Bagaimana dengan dunia dealer dan marketing? Perang tarif semakin lama bukan mereda, tetapi justru semakin menjadi. Berbagai strategi ditempuh para operator untuk menarik pelanggan baru, dan tetap mempertahankan pelanggan lama. Dunia Telekomunikasi memang sangat dinamis dan terus berkembang. Orang di bagian marketing harus pintar memutar otak tentang bagaimana cara untuk berjualan dan mengoptimalkan jaringan yang ada.
Entah bagaimana perkembangan dunia telekomunikasi ke depan, tetapi yang jelas ketika para operator tidak mampu menemukan ladang bisnis yang baru, maka dia harus bersiap-siap gulung tikar, karena revenue dari pos voice dan sms yang kian hari kian menurun, ditambah dengan peta persaingan bisnis telekomunikasi seluler yang semakin sengit dan ganas
Akhir kata, maju terus telekomunikasi Indonesia!
Salam,

Bener banget mas..
kerasa banget, jaman dulu DT engineer dihargai masih layak, sekarang ratenya sangat-sangat mengenaskan..
Brapa rate DT Engineer sekarang yach?
Saya dulu juga memulai karir dari situ loh..
Duh, semoga gak terlalu mengenaskan deh…
Project juga mulai sepi yach?
Semoga dunia telco Indonesia tetap maju.
Gracias