kuldonk said:
emm…
1. seperti yang telah mas riyantoro jelaskan diatas faktor LOS sangat penting untuk komunikasi dengan network eksisting. bagaimana kalo posisi tower sharing NLOS pada beberapa operator??
2. bagaimana untuk daerah urban, sub-urban? apakah ada perbedaan yang signifikan dibandingkan untuk daerah rural(kota)?
Salah satu pertanyaan dari Kuldonk yang masuk ke blog ini. Coba kita sharing lagi nih, mengikuti anjuran pemerintah dengan aturan tower sharingnya
Pertanyaan yang harus kita jawab sebelum berbicara lagi tentang tower sharing yaitu, faktor apa saja yang dipertimbangkan operator dalam menentukan lokasi untuk pembangunan tower/roof top/monopole. Selain beberapa alasan yang pernah saya tulis yaitu kepadatan penduduk sekitar, harga lahan, izin pemerintah dan warga, faktor yang sangat diperhatikan adalah LOS terhadap site existing.
Faktor LOS ini sangat penting dan diperhatikan terutama di daerah padat/perkotaan karena sangat tidak efisien kalau kita menggunakan IDR untuk link Abis/PCMB dari BTS ke BSC mengingat biaya sewa 1 E1 IDR per bulan sangatlah mahal. Jadi ketika akan menyewa space tower, kita tetap memperhatikan apakah lokasi ini LOS terhadap site existing tau tidak. Jika misalnya saja tidak LOS dan tidak memungkinkan lagi membangun tower di lokasi itu, solusi selain link sewa IDR adalah dengan membangun repeater untuk menyambungkan ke jaringan existing. Tentu saja ini tidak efisien dan membuang biaya lumayan besar.
Namun demikian, belakangan ada banyak solusi interkoneksi yang dimiliki setiap operator sehingga operator bisa sedikit bernafas lebih lega. Selain transmisi radio lewat udara, link IDR (satelit), belakangan semakin banyak jaringa FO yang berhasil dibangun operator. Hal ini tentu sanggup meningkatkan kemampuan transmisi setiap operator karena kapasitas FO yang relatif besar, tapi jarang sekali link FO digunakan untuk link Abis/PCMB.
Belakangan ini operator incumbent cenderung meningkatkan kapasitas jaringan-nya dengan banyak membangun monopole di atas ruko-ruko, karena selain biaya investasi lebih murah, perizinannya juga lebih gampang. Monopole ini lebih ditujukan untuk meningkatkan kapasitas jaringan di daerah dengan traffic/revenue tinggi. Kalo di Jakarta biasanya di setiap perempatan yang sibuk dans ering macet operator memasang BTS micro ataupun monopole di sekitar perempatan lampu merah. Hal ini bertujuan untuk mengurangi blocking yang cenderung tinggi. Pelanggan di Jakarta cenderung menghabiskan waktu menunggu lampu merah dengan browsing internet,peluang ini dimanfaatkan dengan baik oleh operator dengan ramai-ramai menggelar jaringan di daerah padat lalu-lintas dan rawan kemacetan tersebut.
Kembali ke masalah LOS/tidak LOS, biasanya dalam survey penentuan lokasi, LOS survey juga dilakukan oleh vendor/subkon sebelum mengajukan beberapa titik kandidat ke operator untuk membangun BTS baru. Di sini, biasanya peran tools mapping sangat dibutuhkan. Tools Google Earth juga bisa digunakan untuk plotting titik sehingga bisa ditentukan lokasi titik ini terhadap jaringan existing.
Regards,
Riyantoro

Dear Pak Riyantoro,
Pak, boleh dapat informasi nggak ya? Untuk pemasangan BTS di gedung perkantoran biasanya pihak Pengelola mematok harga berapa per bulan per operator atau biaya sewa per tahun per operator berapa?
Hehehe
Tergantung lokasi, sekali lagi tergantung lokasi dan kepadatan penduduk di sekitarnya
Itungan biasa 10-15 tahun
Gan sampe 100 jt biasanya, tapi kalo emang padat dan potensial high traffic silahkan minta segitu biasanya operator juga kasih demi pendapatan yang besar
Semoga sedikit membantu…
salam pak riyantoro..
pak saya bisa minta blok diagram transmisi IDR pada satelit telkom 1 secara rinci??
thx…
Sayang sekali saya ndak punya dan kalopun punya mungkin ndak ada kompetensi dan hak untuk share di sini…
Maaf…
Mas Riyantoro,
Untuk masalah tower sharing, faktor apa saja dalam menentukan lokasi tower yang optimal. Misalkan ada 3 menara berdekatan punya operator A,B dan C. Kemudian, dengan adanya push dari regulator untuk menggunakan infrastruktur secara bersama, 2 tower harus dirubuhkan, sehingga harus ada faktor penentu optimalnya jaringan.
Setidaknya, apakah hanya dengan menggunakan algortima K-Nearest Neighbor bisa untuk solving masalah ini? Atau ada faktor2 lain yang membuatnya bisa optimal. Terus Optimalization Engineer biasanya menentukannya berdasarkan apa saja.
Thax atas sharingnya.