Feeds:
Posts
Comments

Minggu ini, saya benar2 terpaksa memilih jadwal penerbangan yg gak enak. Saya pergi ke Jakarta untuk menghadiri acara di Bekasi namun tidak mengambil cuti sehingga memaksa saya berangkat di hari Jumat siang dan Senin harus sudah kembali ke tempat kerja

Pilihan yg sulit ketika pilihan jadwal penerbangan yg ada hanya Senin dinihari jam 00:30 atau Senin pagi jam 5:30 Fiuuh, mbayangin ke bandara Soetta subuh2 saya takut ketinggalan pesawat sehingga memutuskan naik pesawat di Senin dinihari jam 00:30 walaupun harus transit di Makassar sekitar 5 jam

Sebelumnya sudah saya survey ada mini homestay di bandara Hasanuddin, tetapi ternyata pas jam 4:00 Senin subuh saya landing, tidak ada petugas yg saya temui di mini stay tersebut. Terpaksa deh menggelandang dan tidur di kursi ruang tunggu bandara. Hasilnya, susah man mau memjamkan mata dengan nyaman. Banyak gangguan mulai dari cahaya lampu yg silau, gangguan suara orang lalu lalang, hingga ke badan pegal2 karena kursi yg keras.. Ckckck

Kesimpulannya, not recommended lah!!!
Ndak lagi2 saya bberangkat jam segini, karena selain gangguan di atas, susah juga cari tempat mandi di pagi harinya. Padahal rencana sampai kota tujuan mau langsung ngantor, kayaknya batal karena haus pulang dulu untuk mandi

Buat teman2, saya sarankan kalo ada transit di bandara agak lama, pikir baik2 dech, apalagi di jamsbuh begini…

Salam,

Riyantoro

Pengalaman fresh from the oven. Siang ini saya sedang ada meeting di Jakarta yang mengharuskan saya nginep di hotel, mumpung nginep hotel gratis hehe. Alkisah siang ini saya naik taksi dari jalan Gatsu ke Kebon Sirih. Saya naik taksi Biru biar yakin dan ga diajak muter2, katanya sih pelayanan e lebih mantabz.

Selama perjalanan lumayan lancar lewat Kuningan. Kisah menyedihkan dimulai ketika saya sudah sampai di tujuan di Kebon Sirih. Nasib, saya lupa menurunkan barang saya di bagasi. Ampun dech…. Koq bisa lupa yach? Nasib nih, tas yang isinya baju ganti semua lenyap tak berbekas karena kesalahan saya sendiri. Alhasil saya buru2 telpon ke 108 untuk nanya nomor telepon call center taksi tersebut. Yang lebih parah lagi, saya lupa catat nomor taksi dan nama sopirnya.

Dari pengalaman saya ini, ada kesimpulan yang bisa diambil. Klo kita naik taksi, usahakan pilih sopir taksi yang ramah dan tampangnya bersahabat. Check nomor taksi dan nama sopir, cocokin tuh tampang sopir dengan foto yang ada. Jika perlu, biasanya temen2 ku yg cewek update status dengan nomor taksi tersebut. Ya ternyata berguna juga iseng2 ini :(

Baiklah, ini sharing saya
Masih nunggu operator taksi nelpon saya… :(
Semoga sore ini bisa balik lagi, klo ga saya pake apa nih…

Update
Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke pangkalan taksi Bkuebird di nana saya mengambil taksi tersebut. Syukurlah, di pangkalan tersebut ada petugas bluebird yg bertugas mengatur kendaraan. Dari ybs saya memperoleh informasi nomor taksi yg saya pakai ke arah tujuan kebon sirih dan ybs menginformasikan bahwa sopir taksi sempat kembali ke pangkalan dan bingung karena ada tas tertinggal. Puji Tuhan banget, masih ada itikad baik dari beliau :)
Akhirnya saya dapet nomor HP si driver dan saya hubungi, janjian malamnya untuk mengembalikan tas di pool tersebut.

Malamnya, sy bisa mendapatkan tas saya kembali Mantabz!!! Trims ya Pak…
Dari pengalaman ini, saya masih menyayangkan layanan call center BlueBird yang lambat. Bahkan setelah saya informasikan nomor taksi yg membawa tas saya, respons nya lambat juga. Keesokan harinya baru mereka konfirmasi apakah saya sudah memperoleh tas saya kembali
Harusnya call center bs lebih cepat memberi respons setelah saya infokan nomor kendaraan taksinya. But at least, itikad baik dr si driver patut diacungi jempol :D

Oke sekali lagi saya ingatkan, jika naik taksi ada baiknya mengambil dr pool langsung(jika ada), jangan lupa catat nomor taksi dan nama driver, perhatikan barang bawaan Anda hehe Untung saya masih sempat stay di sini beberapa hari, seandainya saya lgsg ke bandara mungkin ceritanya akan menjadi lain karena saya memperoleh tas saya kembali murni karena perjuangan saya, tanpa bantuan dari call center sedikitpun.

Salam,

Riyantoro

Persaingan antar operator telekomunikasi seluler di tanah air kian hari kian sengit. Setelah XL berhasil mengkudeta Indosat dan menjadi operator terbesar nomor 2 di tanah air, dihitung dengan jumlah pelanggan terbanyak kedua setelah TELKOMSEL, maka persaingan untuk mengeruk revenue dari layanan telekomunikasi kian keras dan berdarah-darah :)

Untuk terus meningkatkan pelayanan kepada pelanggan selain dengan bermain tarif dan fitur, dibutuhkan ekspansi network secara kontinyu sehingga mampu mendukung pertumbuhan jumlah pelanggan dan juga mendukung perkembangan layanan yang disediakan. Oleh karena itu, operator mulai berpikir keras untuk menekan biaya pembangunan network baru, baik pembangunan BTS baru, maupun new collocated. Ada beberapa langkah penghematan dan pemangkasan biaya yang ditempuh masing-masing operator. Mulai dari modernisasi perangkat, swap perangkat eksisting dengan barand yang lebih murah, hingga me-manage service-kan pengelolaan networknya kepada vendor yang dipercaya
Dalam uraian singkat ini kita akan membahas tentang acara swap-swapan yang kian gencar dilakukan. :)

Seperti kita ketahui bersama, vendor penyedia perangkat BTS di tanah air yang terkenal dan banyak menyuplai perangkat ke operator di tanah air terdiri dari vendor EID, NSN, Alcatel, Motorola, Huawei, ZTE, Samsung. Secara garis besar keduanya bisa dibagi menjadi dua bagian berdasar negara produsen/asal vendor ybs. Vendor Eropa terdiri dari EID, NSN, dan ALU(merger Alcatel dan Lucent), sedangkan vendor Asia terdiri dari Huawei, ZTE, dan Samsung. Motorola sendiri merupakan vendor dari Amerika, namun di beberapa lokasi nasibnya sama dengan perangkat BTS ALU yang sudah punah dan diswap oleh perangkat vendor lain.

Bagaimana cerita swap antar vendor ini bisa terjadi? Usut punya usut, operator tanah air mulai mencari perangkat yang murah, murah dan murah. Ya, ini adalah konsekuensi logis dari permainan perang tarif, lagi-lagi korban perang tarif yang diprakarsai oleh XL :D
Akibat perang tarif, mau tidak mau para operator harus berdarah-darah menurunkan tarif layanannya namun di sisi lain tetap mempertahan kualitas network dan juga tetap melakukan ekspansi, pengembangan networknya. Sungguh dilema, karena dengan adanya perang tarif otomatis revenue yang diperoleh mengalami pertumbuhan yang tidak sebesar ketika tarif masih normal, dengan asumsi pertumbuhan pelanggan yang sama. Dengan kata lain, jika sebelum perang harga operator hanya membutuhkan penambahan pelanggan baru sebanyak 1 juta pelanggan baru untuk menumbuhkan revenue baru sebesar 1M rupiah, maka setelah perang tarif dimulai, operator membutuhkan lebih banyak lagi pertumbuhan pelanggan baru. Angka di atas hanya asumsi untuk mendeskripsikan bagaimana perang tarif sudah mengubah segalanya.

Untuk mempertahankan pertumbuhan revenue dimaksud, maka operator wajib melakukan pemangkasan pengeluaran di sana-sini. Budget pembangunan network harus dihitung ulang, sehingga di sinilah peluang bagi vendor penyedia perangkat BTS dari Asia muncul. Mereka dengan cerdas masuk dan memberikan penawaran penyediaan perangkat yang murmer alias murah meriah. Bagaimana si operator tidak akan tergiur jika dengan budget yang sama untuk membeli 1 set BTS baru dari vendor Eropa ternyata jika dibelikan perangkat BTS milik vendor Asia bisa diperoleh 2 atau 3 set BTS baru lengkap, bahkan masih ditambah dengan free sparepart selama setahun?
Sungguh penawaran yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Dari situlah dimulai acara yang disebut dengan swap, swap, dan swap perangkat Eropa menjadi perangkat Asia

Di berbagai pelosok tanah air operator mulai gencar melakukan swap perangkatnya dari EID misalnya, diswap menjadi Huawei atau ZTE, atau juga NSN diswap ke ZTE/Huawei. Kedua vendor Asia ini memang mulai berjaya di dunia telekomunikasi tanah air, mereka berhasil meyakinkan para operator untuk menyingkirkan perangkat Eropa yang mahal itu, dan diganti dengan perangkat mereka yang rata-rata sudah memiliki kemampuan yang sama atau setara. Rata-rata perangkat Asia ini memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan perangkat Eropa, hanya saja karena harga yang lebih murah tentunya ada beberapa hal yang menjadi kekurangan dari perangkat tersebut, seperti ketahanan dan fitur yang kurang lengkap dibandingkan dengan perangkat Eropa.

Apa hal positif yang bisa diperoleh dengan adanya proyek swap besar-besaran ini? Tentu bagi para pencari kerja ini ada adalah proyek besar yang akan menyerap banyak tenaga kerja. :) Ya, mau tidak mau karena network yang diswap relatif besar, maka membutuhkan tenaga kerja yang besar juga untuk mengerjakan proyek hingga berjalan dengan mulus. Tenaga kerja yang dibutuhkan mulai dari installer, commissioning, hingga optimasi network. Di sinilah tenaga kerja baik yang berpengalaman maupun yang akan mencari pengalaman akan sangat berperan :)

Dengan adanya proyek swap dan penggantian perangkat ini, tentunya akan memberikan dampak layanan kepada pelanggan. Dampak yang timbul mulai dari penurunan kualitas layanan dalam masa peralihan network, hingga perpu yang terjadi ketika proses swap berlangsung. Operator tentu menekan sang vendor untuk meminimalisir gangguan dan penurunan performa layanan networknya, tetapi tetap saja akan ada sedikit banyak outage dan degradasi kualitas layanan. Orang Optim akan bertugas untuk mengawal dan memperbaiki kualitas network sehingga pelanggan merasakan seminimal mungkin dampak dari swap perangkat tersebut.

Semoga dengan proyek swap-swap ini semakin membesarkan network telekomunikasi di tanah air sehingga bisa melayani pelanggan dengan lebih baik lagi.
Salam,

Riyantoro

Artikel ini pernah saya buat sepulang training dari negeri seberang, tetapi karena alasan waktu dan kesempatan untuk menulis di blog ini yang selalu kurang maka baru sekarang saya selesaikan, justru ketika perang tarif antar operator telekomunikasi seluler semakin seru

Ya, pertanyaan ini baru saja mengemuka sesaat setelah saya merasakan sendiri tarif telekomunikasi seluler di negeri orang. Memang baru satu negara yang dijadikan komparasi, namun hal itu tidak menutup kemungkinan untuk dijadikan pembanding karena toh saya cuman membuat statement, siapa bilang tarif telekomunikasi seluler di tanah air mahal?

Setelah hampir 2 minggu lamanya merasakan layanan 2 operator seluler berbeda di Shanghai, rasanya tarif di negeri kita tercinta ini jauh lebih murah terlebih dengan adanya promo-promo gila-gilaan dari tiap operator yang berlomba-lomba untuk menarik minat pelanggan. Bayangkan saja sebagai komparasi, di sana pulsa senilai 50 RMB hanya bisa dipakai dalam beberapa menit saja untuk menelpon ke sesama pelanggan di sana. Saya memang sengaja menggunakan nomor lokal sana untuk berkomunikasi dengan teman-teman sesama peserta training karena saya pikir lebih murah, dan kalopun saya menggunakan nomor dari Indonesia tentunya terkena roaming

Selidik punya selidik, setelah menggunakan beberapa kali panggilan dan sms, ternyata pulsa 50RMB tidak cukup untuk 4 hari karena keburu habis dan terpaksa harus melakukan isi ulang. Untungnya untuk komunikasi ke Indonesia saya menggunakan VoIP sehingga bisa lebih murah. Tidak terbayang jika saya harus menggunakan nomor sana untuk melakukan panggilan ke Indonesia, bisa habis uang saku hanya untuk menelpon hehe

Kesimpulannya, nikmatilah perang tarif yang masih sengit terjadi di Indonesia. Sebagai pelanggan kita sangat diuntungkan dengan adanya persaingan antar operator yang semakin sengit, tinggal bagaimana kita menyiasati dan mengambil keuntungan dari tiap promo yang diluncurkan. Misalnya untuk menelpon teman yang menggunakan nomor A, kita gunakan skema tarif/bonus si operator A dan mungkin untuk sms kita bisa memilih nomor operator B. Intinya kita pakai nomor yang memberikan skema tarif paling menguntungkan untuk kita tetapi tetap dengan kualitas network yang masih oke. Mau tidak mau kualitas network pasti akan terpengaruh oleh promo-promo yang gencar diluncurkan oleh masing-masing tim sales tiap operator.

Hari gini nelpon mahal?

Salam,

Dunia Telekomunikasi Seluler sedang lesu, ya belakangan ini pasar telekomunikasi mulai jenuh bukan karena pasar yang terlalu banyak pemain (operator) tetapi karena kue yang dibagi-bagi mulai habis dan tinggal menyisakan sedikit remah-remah yang susah dijangkau.

Tahun 2011 adalah masa penuh perjuangan bagi para pekerja di bidang telekomunikasi, baik di sisi operator, vendor, sub kontraktor, dealer, maupun pelaku bisnis yang masih berkecimpung di bidang ini. Ya, kue yang dulu begitu empuk dan nikmat mulai habis dibagi-bagi. Sedikit demi sedikit daerah yang belum dijamah teknologi telekomunikasi seluler mulai dikenalkan dengan kecanggihan teknologi seluler dari layanan voice, sms, video, hingga data dengan kecepatan tinggi.

Apa yang tersisa saat ini tinggal sepotong kecil kue di beberapa pelosok yang membutuhkan effort yang tidak sedikit untuk bisa menikmatinya. Sepotong kue pasar itu adalah daerah-daerah terisolir yang masih belum terjamah jaringan telekomunikasi seluler baik GSM/CDMA. Tentunya butuh biaya dan investasi awal yang tidak murah untuk bisa membuka layanan telekomunikasi seluler di daerah tersebut karena selain akses yang sulit, revenue yang mungkin diperoleh pun tidak sebesar pasar di daerah perkotaan.

Bagaimana efek domino pasar yang lesu ini bagi vendor penyedia perangkat telekomunikasi? Dampak secara langsung tidak bisa dikatakan ada, tetapi secara tidak langsung tetap ada dampak signifikan terhadap angka penjualan perangkat oleh tiap vendor. Dengan mulai jenuhnya pasar, maka operator memutar otak bagaimana caranya untuk memperoleh pertumbuhan pelanggan dan revenue yang tetap tinggi, tetapi tentunya dengan biaya dan investasi yang semakin rendah. Solusi yang harus ditempuh tentunya dengan menekan biaya produksi, tetapi juga harus memberikan tarif murah kepada pelanggan sehingga bisa bersaing dengan kompetitor.

Dengan strategi tersebut, mau tidak mau perangkat yang digunakan harus ditekan biaya pembeliaannya. Vendor dengan harga yang tinggi harus legowo disingkirkan oleh vendor yang berani menawarkan biaya dan service yang lebih murah. Ujung-ujungnya, swap perangkat pun terjadi di mana-mana. Perangkat vendor A harus rela diswap oleh perangkat vendor B yang harganya terlihat tidak masuk akal, dengan teknologi yang lebih maju, harga perangkat vendor B bisa 3 kali lebih murah How come? Hmm, 1 answer: China product with it’s own quality.. :)

Tidak hanya 1-2 operator yang menempuh cara ini untuk tetap bisa eksis bersaing di bisnis telekomunikasi, ini adalah tuntutan pasar. Operator yang masih ngotot menggunakan tarif tinggi dan perangkat mahal akan kalah dalam persaingan, karena pelanggan sudah terbuai dengan perang tarif yang terus dipertontonkan para operator. Dari perang operator ini, pelanggan bisa diuntungkan dengan skema tarif yang kompetitif, tinggal memilih yang sesuai kebutuhan dan kemampuan.

Dari sisi pekerja dan kuli telekomunikasi bagaimana? Dari info mulut ke mulut dan pengamatan teman-teman saya yang berkecimpung di dunia vendor, terjadi migrasi besar-besaran para pekerja kerah putih maupun pekerja kasar bisnis telekomunikasi dari vendor Eropa ke vendor China. Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa vendor Eropa mulai tergusur kepopulerannya di Indonesia. Vendor-vendor besar dari daratan Eropa harus legowo posisinya digeser oleh vendor China yang harga perangkat dan servicenya jauh di bawah harga yang mereka tawarkan kepada operator. Bukan hanya pangsa pasarnya yang dibajak, bahkan SDMnya pun satu per satu dibajak dengan iming-iming gaji yang lebih besar tentunya.

Bagaimana dengan dunia dealer dan marketing? Perang tarif semakin lama bukan mereda, tetapi justru semakin menjadi. Berbagai strategi ditempuh para operator untuk menarik pelanggan baru, dan tetap mempertahankan pelanggan lama. Dunia Telekomunikasi memang sangat dinamis dan terus berkembang. Orang di bagian marketing harus pintar memutar otak tentang bagaimana cara untuk berjualan dan mengoptimalkan jaringan yang ada.

Entah bagaimana perkembangan dunia telekomunikasi ke depan, tetapi yang jelas ketika para operator tidak mampu menemukan ladang bisnis yang baru, maka dia harus bersiap-siap gulung tikar, karena revenue dari pos voice dan sms yang kian hari kian menurun, ditambah dengan peta persaingan bisnis telekomunikasi seluler yang semakin sengit dan ganas

Akhir kata, maju terus telekomunikasi Indonesia!
Salam,

Voice vs Data

Pesatnya perkembangan dunia telekomunikasi dewasa ini sudah mengarahkan pelanggan tidak hanya sekedar menikmati layanan voice dan sms, namun juga layanan data. Dimulai dengan layanan GPRS, dilanjutkan EDGE, 3G, HSDPA, dan akhirnya sekarang era LTE mulai berkembang.

Dalam artikel ini kita tidak akan membahas LTE, karena sampai sekarang pun operator masih dalam tahap ujicoba mengingat frekuensi yang mau dipakai masih belum bebas alias masih ada yang menduduki. Tiap tahunnya operator berlomba-lomba untuk meningkatkan kapasitas jaringannya untuk mengakomodir kebutuhan pelanggan akan layanan broadband. Operator sudah menggunakan teknologi 3G untuk menyediakan layanan akses data pita lebar, sehingga kapasitas network bisa semakin besar dan longgar untuk diakses para pelanggan. Namun demikian, ternyata pertumbuhan pengguna layanan broadband yang sebegitu pesat membuat penambahan kapasitas itu seperti tidak ada artinya. Ya, pertumbuhan traffic data tidak seimbang dengan pertumbuhan jaringan, sama seperti pertumbuhan traffic voice

Padahal operator sudah meningkatkan kapasitas jaringannya baik di sisi radio, maupun di sisi gateway ke server dalam maupun luar negeri. Pada kenyataannya semua tidak bisa memprediksi pertumbuhan traffic, karena di era sekarang ini orang mulai meninggalkan sms/telepon dan beralih ke layanan data. Apakah operator bersyukur, atau justru pusing tujuh keliling?

Mari kita coba bandingkan dari sisi operator maupun dari sisi pelanggan. Jika kita berada di sisi operator, kita mungkin tersenyum melihat angka pertumbuhan pengguna broadband dan pelanggan layanan data yang semakin hari semakin signifikan pertumbuhannya. Namun di sisi lain, seiring dengan pertumbuhan pelanggan broadband itu, ternyata traffic voice dan sms mulai mengalami stagnanisasi. Ya, traffic voice dan sms tumbuh melambat, kalau tidak mau dibilang jalan di tempat. Jika begini, maka voice call dan sms yang selama ini menjadi lumbung emas para operator mau tak mau terkikis sedikit demi sedikit. Operator harus berpikir keras bagaimana cara meningkatkan kembali pertumbuhan revenue demi kelangsungan perusahaan.

Bagaimana dari sisi user? Dengan adanya layanan data yang mumpuni, maka ada pilihan lain untuk berinteraksi dengan orang yang jauh dari pelanggan dan alternatif untuk menekan biaya telekomunikasi, misal dengan menggunakan VoIP, maupun mengirim pesan lewat internet. Ya, user semakin diuntungkan dengan layanan broadband ini. Voice dan Data sama-sama menjadi sumber pernghasilan tiap operator telekomunikasi, tetapi seiring perkembangan jaman, voice mulai ditinggalkan dan beralih ke data. Voice tetap menjadi kebutuhan telekomunikasi utama, tetapi tidak lagi bisa dijadikan andalan untuk memperoleh revenue

Akankah Operator-operator telekomunikasi bertahan dengan kondisi ini? Kita lihat saja perkembangannya, tetapi paling tidak masing-masing operator harus pintar-pintar menemukan ladang bisnis baru karena berjualan voice dan sms tidak lagi menggiurkan seperti dulu

Salam,

Riyantoro

Repotnya ATM BCA

Melanjutkan postingan saya sebelumnya perihal PIN ATM BCA saya yg terlupakan, sehingga ATM terblokir, ternyata sampai sekarang tidak ada solusi lain yang bisa ditawarkan untuk membantu saya “mengakses” dana milik saya yang ada di rekening.

Kantor cabang tempat di mana saya bekerja tetap berkeras, klo saya ingin melakukan reset PIN ATM BCA saya, dan meminta PIN yang baru maka saya harus pergi langsung ke cabang penerbit buku tabungan, padahal saya menerbitkan buku tabungan/ membuka rekening di KCU Matraman, Jakarta. Yang bener aja, cuman mau ganti PIN ATM aja harus jauh-jauh ke Jakarta? Saya terus terang pernah mengalami juga lupa PIN ATM milik bank lain, dan bisa minta PIN ATM baru di cabang sini, padahal buku tabungan diterbitkan di Jogjakarta.

Zaman sekarang khan sistem sudah online semua, jadi tinggal cocokin aja data, habis itu tinggal koordinasi internal antar cabang mereka untuk mereset PIN ATM beres dech. Sungguh kesal rasanya dengan pelayanan BCA ini, terasa kurang bersahabat dengan perantau seperti saya. Mungkin pengalaman untuk rekan-rekan yang lain, kalo bisa jangan sampe lupa PIN ATMnya, dan klo sempat, lebih baik mengaktifkan layanan sms banking dan internet banking karena CS yang saya datangi menyarankan kalo sudah mengaktifkan sms banking/ internet banking, bisa dibukakan rekening tabungan baru dan kita tinggal melakukan transfer dana dari rekening yang terblokir ke rekening baru tersebut.

Memang agak ribet, tapi mau bagaimana kalo itu sudah menjadi aturan perusahaan
Sebagai pelanggan kita tinggal pilih bank mana yang paling cocok dan sesuai pelayanan nya. Di balik ribetnya prosedur yang ada pasti ada juga value added yang ditawarkan, tinggal bagaimana kita menimang dan memilih produk bank mana yang paling sesuai dengan kebutuhan

Buat saya sih sudah cukup ribet, mau gak mau jadwalin ke Jakarta untuk mengurus PIN ini kemudian menutup rekening langsung. Cukup sudah direpotkan dengan aturan yang berbelit-belit dan merepotkan nasabah seperti ini.

Salam,

Cerita diawali dengan kepulanganku dari Shanghai setelah mengikuti training dari kantor. Cuman dua minggu sih di sana, tetapi ternyata pas balik dan mau ambil cash di ATM BCA ku, ternyata aku bener2 lupa PIN ATM ku. Mana uang biaya hidup ada di sono semua lagi, puyeng juga nih jadinya

Permasalahan mulai muncul, ketika saya coba menelpon call center di (021) 500888 dari hapeku disarankan untuk ke kantor cabang terdekat dan minta buka blokir PIN ATM. Setelah meluangkan waktu ke sana, ternyata Mbak CSnya cuman bisa membantu membuka blokir, tetapi saya tetap harus mencoba mengingat lagi PIN ATM. Ketika saya tanya gimana cara untuk ganti PIN, disarankan harus ke kantor penerbit buku tabungan alias ke KCU Matraman tempat aku buka buku tabungan pertama. Damn! Yang bener aja, gw di seberang pulau Jawa neh!

Akhirnya masih milih solusi buka blokir ATM dan mencoba mengingat lagi PIN yang terlupakan. Mau gimana lagi, gak mungkin saya ke Jakarta hanya untuk mengurus ATM yang terblokir, gak justified banget gitu loh.. :(

Semoga besok aku bisa inget PIN yang benar dech
Doain yach, ini menyangkut kelangsungan hidup soalnya

^_^

Ericsson vs Nokia Siemens Network vs Huawei vs ZTE vs Alcatel Lucent

Persaingan menggila terjadi di dunia vendor telekomunikasi tanah air dan bahkan mungkin di pasaran global dewasa ini. Bukan rahasia lagi kalo persaingan sengit dan sikut-sikutan untuk mendapatkan proyek milik para operator benar-benar menghebohkan. Jika semula vendor telekomunikasi masih didominasi oleh vendor Eropa dan beberapa vendor Amerika Serikat, belakangan muncul dua vendor raksasa dari negeri Tirai Bambu yang semakin lama semakin menggurita dalam dunia telekomunikasi.

Dulu Mr Eric dari Swedia dan Mbak Nokiyem yang merger sama Om Simeng begitu berjaya dalam memenangkan proyek dari berbagai operator walau harga perangkat dan service yang ditawarkan masih selangit. Hal ini masih sesuai karena di masa-masa yang lalu revenue operator juga masih sangat gampang untuk diperoleh. Dengan revenue yang tinggi, tidak salah lagi kalau belanja modal yang besar tidak menjadi masalah lagi.

Namun belakangan, dengan bergulirnya perang operator yang kita sendiri belum tau hingga kapan akan berlangsung maka revenue menjadi semakin sulit didapatkan. Untuk menyamai jumlah peningkatan revenue seperti dulu sangatlah sulit, walau itu bukan berarti hal yang mustahil. Sekarang operator berlomba untuk meningkatkan kapasitas dan coverage layanan dengan diimbangi perbaikan kualitas untuk menaikkan CB (customer based) sehingga revenue tetap terjaga, tetapi di sisi lain harus melakukan penghematan luar biasa agar bisa bersaing dengan kompetitor.

3 Operator terbesar tanah air pun sudah mulai tidak mengharamkan penggunaan perangkat dari vendor kurang ternama, yang justru sekarang menjadi begitu ternama karena sukses men-swap perangkat2 keluaran Eropa dan Amerika. Evolusi teknologi Om Simeng sudah mentok, tidak ada lagi pengembangan sehingga akhirnya merelakan diri diakuisisi Mbak Nokiyem. Hasil merger mereka masih menyisakan banyak Pe-eR, tetapi sudah harus bersaing keras dengan Mr. Eric yang tidak mau kalah membuat inovasi teknologi. Di samping itu, mereka juga harus bertahan dari gigitan produk2 vendor Negeri Tirai Bambu yang kian merajalela. Si Kipas Merah sudah meraja lela, membawa angin topan bagi tiap vendor Eropa. Bahkan Vendor Amerika si Mr Al sudah habis dibabat di beberapa tempat, miris memang.. :)

Peluang atau Ancaman?
Dengan semakin banyaknya vendor telekomunikasi, apa yang bisa kita peroleh? Ada banyak sudut pandang yang bisa kita gunakan dalam menyikapi keadaan ini. Jika kita memandang dari sisi pelanggan, kita berharap dengan persaingan yang sehat, maka harga perangkat yang semakin murah akan bermuara pada tarif yang semakin murah dan murah :)
Jika kita menjadi operator, tentu menjadikan banyaknya pilihan vendor yang bisa kita pilih sesuai teknologi yang dibutuhkan, dan juga anggaran CAPEX yang dimiliki. Kalau dulu operator begitu tergantung dengan vendor Eropa yang jual mahal, sekarang kalo mereka masih ngeyel dengan harga selangit, operator bisa langsung melirik ke vendor Negeri Seribu Bambu yang siap membidik peluang dengan lahap

Bagaimana dengan operasional perangkat di lapangan?
Bagi engineer yang bernaung di vendor maupun operator, tentunya perangkat dan teknologi baru adalah peluang untuk belajar ilmu baru yang bisa saja membawa mereka jalan2 ke LN
Lumayan khan training ke China, Jerman, atau Swedia?
Jangan salah, perangkat Negeri Bambu sudah diproduksi dari BTS, BSC, TRAU, hingga MSC juga mereka produksi. Bahkan terakhir mereka mengeluarkan produk rectifier yang menjadikan salah satu vendor rectifier terbesar yang mensuplai kantorku ketar ketir karena mulai tergusur..

Yach, itu sedikit peta persaingan dalam dunia Telco
Mari saling berbagi dan sharing pengalaman di sini…

Salam,

Riyantoro

Seteleh beberapa lama vacum gak pernah posting lagi di blog tercinta ini, kayak ada yang kurang rasanya klo gak sharing hehe. Sekedar sharing pengalaman kecil, sekalian me-refresh blog yang mulai kusam karena tidak ada postingan baru.

Kisah ini berawal ketika tengah malam ada panggilan di iPhone ku, ngasih info klo ada BSC yang tidak bisa dimonitor. Kita ngomongin perangkat RAN GSM berlabel Siemens ya.. :) Nah, ceritanya khan untuk memudahkan kita memonitor network yang makin lama makin gede ukurannya, makin banyak BTS yang harus dipelototin, akan lebih mudah untuk memonitor kalo ada aplikasi tunggal yang bisa melihat ke banyak BSC. Jadilah setiap BSC terhubung ke server yang akan memudahkan monitoring by OMC. Nah, koneksi ke server menggunakan link dari BSC namanya X25A, yang digunakan di BSC ku karena yang dibahas di sini BSC Classic Siemens.

Link X25A ini umumnya menggunakan timeslot 30 dari PCMA yang relatif stabil dan jarang mengalami outage, sehingga proses monitoring bisa terus dilakukan, tidak peduli panas ataupun hujan hehe.

Nah, malam itu aku terbangun jam 2.00 dini hari karena OMAL yang down dan ada info kalau all signalling di BSC tersebut juga down. Ampyuunn…. Lagi enak-enaknya bobo neh hehehe. Walaupun akhirnya setelah ditelusuri info itu salah karena kesalahan pembacaan data, namun itulah awal dari perjuanganku untuk membangkitkan OMAL.

Karena hingga pukul 4.00 belum naik juga OMAL BSC ini, sedangkan link X25A naik dan upaya pertolongan pertama dengan melakukan switch modul IXLT tetap belum berbuah manis, akhirnya diputuskan untuk melakukan proses troubleshooting keesokan harinya. Hal ini dilakukan mengingat butuh koordinasi dengan orang bagian switching sehingga problem yang ada bisa dilokalisir dan segera ditemukan solusinya. Kebetulan jam segitu orang switchingnya sudah pulang rumah.

Keesokan harinya dilanjutkan dengan koordinasi dengan teman switching untuk mengurut link nail up X25A karena di sisi BSS yakin kalo tidak ada masalah, dibuktikan dengan link X25A di BSC yang naik, walau setelah diamati lebih lanjut ternyata beberapa kali flicker dan alarm degraded. Hingga siang hari rekan SS sudah melakukan delete create nail up baik di sisi MSC maupun di router yang menyambungkan link ke server Jakarta. Hmm, makin puyeng aja karena BSC tidak termonitor sehingga ada kemungkinan ada BTS atau justru BSC down tetapi tidak terdeteksi. Akhirnya teman SS angkat tangan dan merasa apa yang bisa mereka lakukan sudah dilakukan dalam upaya membangkitkan OMAL 2 BSCku. Waduh, gimana nih gw mulai panik juga jadinya…

Akhirnya kuputuskan untuk login ke TRAU dan remote ke BSC. Gw ajak rekan switching untuk memindahkan X25A dari PCMS 38 ke PCMA 44 dengan pertimbangan untuk mengeliminir flicker pada link X25A. Namun belakangan didapati ternyata upaya itu belum membuahkan hasil yang maksi :( Link X25 masih flicker man!!! Terpaksa phone a friend, karena tidak ada opsi fifty-fifty hehe. Tanya teman di sana-sini ada yang menyarankan untuk switch modul MPCC, delete CBCL, pindah lagi link X25A. Yes!!! Ada banyak solusi yang bisa dicoba hehe

Akhirnya setelah baca-baca edocs dari BR7 – BR9.0 walau cuman baca seperlunya (sebelumnya jarang-jarang nih edoc gw baca2 kecuali klo ada masalah dan sedang troubleshoting begini :P ). Yang pasti nih edoc gw baca gak bakalan mpe katam, orang dibukan cuman klo butuh referensi aja, gak pernah dipelajari layaknya text book jaman SD-SMA dulu. Alhasil, step demi step gw coba. Pertama gw delete CBCL yang menurut senior gw, pengalamannya bisa membangkitkan OMAL dengan delete nih item yang tidak berguna! hehe Ndak berguna buat gw sama senior gw tapi kayaknya berguna buat orang2 Sales .

Ah, ternyata delete CBCL ndak ngefek, call rekan SS dech untuk lock unlock port di MSC dan router. Finally, tips terakhir pun dijalankan yaitu switch modul MPCC! Harus dilakukan di local (LMT) di BSC sebagai antisipasi aja klo terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, karena modul ini adalah modul utama yang menjadi otak BSC. Ndak lucu tentunya kalo waktu kita remote BSC kemudian kita melakukan action ke BSC yang menyebabkan BSC down kemudian kita harus menuju ke BSC, wow outagenya besar donk? :D

Aaah.. akhirnya pelan tapi pasti si OMAL bangkit dari mimpi buruknya.. Tapi sampai sekarang masih juga bingung kenapa bisa begitu? Selama ini problem OMAL menurut rekan SS adalah problem paling gampang koq ini bikin pusing hingga nda bisa tidur? Syukurlah dah naik jadi bisa bernafas lega, walau beberapa detik kemudian ada panggilan lain karena ada 3 node-B yang tertidur juga. Uh, siram air aja biar bangun!!! wakakaka

Itu sharing dan catatan kecil aja biar gw inget masa-masa berjuang dengan perangkat Siemens karena tidak lama lagi gw bakalan lebih banyak ber-’joged’ dengan barang Cina punya. Dampak perang tarif nih hehehe. Gpp, perangkat baru otomatis ilmu baru khan? Selalu ambil hikmah terbaik aja lah… :D

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.