Feeds:
Posts
Comments

Seteleh beberapa lama vacum gak pernah posting lagi di blog tercinta ini, kayak ada yang kurang rasanya klo gak sharing hehe. Sekedar sharing pengalaman kecil, sekalian me-refresh blog yang mulai kusam karena tidak ada postingan baru.

Kisah ini berawal ketika tengah malam ada panggilan di iPhone ku, ngasih info klo ada BSC yang tidak bisa dimonitor. Kita ngomongin perangkat RAN GSM berlabel Siemens ya.. :) Nah, ceritanya khan untuk memudahkan kita memonitor network yang makin lama makin gede ukurannya, makin banyak BTS yang harus dipelototin, akan lebih mudah untuk memonitor kalo ada aplikasi tunggal yang bisa melihat ke banyak BSC. Jadilah setiap BSC terhubung ke server yang akan memudahkan monitoring by OMC. Nah, koneksi ke server menggunakan link dari BSC namanya X25A, yang digunakan di BSC ku karena yang dibahas di sini BSC Classic Siemens.

Link X25A ini umumnya menggunakan timeslot 30 dari PCMA yang relatif stabil dan jarang mengalami outage, sehingga proses monitoring bisa terus dilakukan, tidak peduli panas ataupun hujan hehe.

Nah, malam itu aku terbangun jam 2.00 dini hari karena OMAL yang down dan ada info kalau all signalling di BSC tersebut juga down. Ampyuunn…. Lagi enak-enaknya bobo neh hehehe. Walaupun akhirnya setelah ditelusuri info itu salah karena kesalahan pembacaan data, namun itulah awal dari perjuanganku untuk membangkitkan OMAL.

Karena hingga pukul 4.00 belum naik juga OMAL BSC ini, sedangkan link X25A naik dan upaya pertolongan pertama dengan melakukan switch modul IXLT tetap belum berbuah manis, akhirnya diputuskan untuk melakukan proses troubleshooting keesokan harinya. Hal ini dilakukan mengingat butuh koordinasi dengan orang bagian switching sehingga problem yang ada bisa dilokalisir dan segera ditemukan solusinya. Kebetulan jam segitu orang switchingnya sudah pulang rumah.

Keesokan harinya dilanjutkan dengan koordinasi dengan teman switching untuk mengurut link nail up X25A karena di sisi BSS yakin kalo tidak ada masalah, dibuktikan dengan link X25A di BSC yang naik, walau setelah diamati lebih lanjut ternyata beberapa kali flicker dan alarm degraded. Hingga siang hari rekan SS sudah melakukan delete create nail up baik di sisi MSC maupun di router yang menyambungkan link ke server Jakarta. Hmm, makin puyeng aja karena BSC tidak termonitor sehingga ada kemungkinan ada BTS atau justru BSC down tetapi tidak terdeteksi. Akhirnya teman SS angkat tangan dan merasa apa yang bisa mereka lakukan sudah dilakukan dalam upaya membangkitkan OMAL 2 BSCku. Waduh, gimana nih gw mulai panik juga jadinya…

Akhirnya kuputuskan untuk login ke TRAU dan remote ke BSC. Gw ajak rekan switching untuk memindahkan X25A dari PCMS 38 ke PCMA 44 dengan pertimbangan untuk mengeliminir flicker pada link X25A. Namun belakangan didapati ternyata upaya itu belum membuahkan hasil yang maksi :( Link X25 masih flicker man!!! Terpaksa phone a friend, karena tidak ada opsi fifty-fifty hehe. Tanya teman di sana-sini ada yang menyarankan untuk switch modul MPCC, delete CBCL, pindah lagi link X25A. Yes!!! Ada banyak solusi yang bisa dicoba hehe

Akhirnya setelah baca-baca edocs dari BR7 – BR9.0 walau cuman baca seperlunya (sebelumnya jarang-jarang nih edoc gw baca2 kecuali klo ada masalah dan sedang troubleshoting begini :P ). Yang pasti nih edoc gw baca gak bakalan mpe katam, orang dibukan cuman klo butuh referensi aja, gak pernah dipelajari layaknya text book jaman SD-SMA dulu. Alhasil, step demi step gw coba. Pertama gw delete CBCL yang menurut senior gw, pengalamannya bisa membangkitkan OMAL dengan delete nih item yang tidak berguna! hehe Ndak berguna buat gw sama senior gw tapi kayaknya berguna buat orang2 Sales .

Ah, ternyata delete CBCL ndak ngefek, call rekan SS dech untuk lock unlock port di MSC dan router. Finally, tips terakhir pun dijalankan yaitu switch modul MPCC! Harus dilakukan di local (LMT) di BSC sebagai antisipasi aja klo terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, karena modul ini adalah modul utama yang menjadi otak BSC. Ndak lucu tentunya kalo waktu kita remote BSC kemudian kita melakukan action ke BSC yang menyebabkan BSC down kemudian kita harus menuju ke BSC, wow outagenya besar donk? :D

Aaah.. akhirnya pelan tapi pasti si OMAL bangkit dari mimpi buruknya.. Tapi sampai sekarang masih juga bingung kenapa bisa begitu? Selama ini problem OMAL menurut rekan SS adalah problem paling gampang koq ini bikin pusing hingga nda bisa tidur? Syukurlah dah naik jadi bisa bernafas lega, walau beberapa detik kemudian ada panggilan lain karena ada 3 node-B yang tertidur juga. Uh, siram air aja biar bangun!!! wakakaka

Itu sharing dan catatan kecil aja biar gw inget masa-masa berjuang dengan perangkat Siemens karena tidak lama lagi gw bakalan lebih banyak ber-’joged’ dengan barang Cina punya. Dampak perang tarif nih hehehe. Gpp, perangkat baru otomatis ilmu baru khan? Selalu ambil hikmah terbaik aja lah… :D

Gara-gara mau menyalin file installer VMWare dari Hdd external vendor, ternyata ada virus yang ikutan nebeng dan merasuki laptop ACER andalanku. Yach, memang walaupun sudah ada laptop IBM tapi masih terkapar gara2 virus juga. Ternyata belum selesai laptop IBM diinstall ulang, ACER ikutan diserang virus yang namanya Tanatos.J. Virus varian ini terdeteksi oleh AVG 8.5 ku tapi ternyata sang antivirus pun tidak mampu mengatasi serangan virus ini.

Indikasi laptopku terserang virus ini yaitu ketika semua file, hampir semua yang memiliki ekstensi .exe akan terdeteksi oleh sang antivirus sebagai virus. Setelah kita masuk ke Windows, maka antivirus akan melakukan scanning ke seluruh folder kita. Kemudian ketika proses berjalan, hampir semua file .exe terlebih aplikasi/program yang sering kita gunakan semisal office, program kantor, dan browser kesayangan yaitu Mozilla. Wew, begitu terdeteksi sebagai virus, kita tidak bisa memilih opsi heal, yang bisa kita lakukan hanya delete saja. Begitu kita delete file ini, maka pupus sudah harapan kita untuk bisa menggunakan aplikasi/program yang terdelete file .exe nya tersebut.

Cukup pusing juga aku dibuatnya. Karena masih harus lanjut meeting dan juga ada beberapa kerjaan yang harus dikerjakan, tidak mungkin aku format ulang nih laptop di samping aku juga ga bawa CD master programku. Dah coba AVG dan McAffee ndak mempan juga, akhirnya coba pake Avast. Setelah selesai proses install, dilanjutkan dengan restart laptop, system kemudian masuk ke sistem milik antivirus mungil ini, dan proses scanning pun dimulai untuk memilah file-file yang terinfeksi dengan virus ini. Dari situ, didapetlah bahwa hampir semua file .exe milikku dah kena virus dan terpaksa direlakan untuk dihapus hiks.

Setelah proses scanning selesai, kita bisa masuk lagi ke Windows dech, trus update lewat internet dengan update antivirus yang terbaru. Proses registrasi juga relatif gampang, dan sampai sekarang terbukti nih Windows masih waras walau aku terpaksa harus install ulang program2 yang sudah disikat sama virus jelek ini. Yach, lumayanlah ndak harus susah2 install ulang. Trik ini bisa jadi pertolongan pertama dech, walau belum tentu manjur untuk semua virus loh..

Just sharing..

King Regards,

Riyantoro

kuldonk said:
emm…
1. seperti yang telah mas riyantoro jelaskan diatas faktor LOS sangat penting untuk komunikasi dengan network eksisting. bagaimana kalo posisi tower sharing NLOS pada beberapa operator??
2. bagaimana untuk daerah urban, sub-urban? apakah ada perbedaan yang signifikan dibandingkan untuk daerah rural(kota)?

Salah satu pertanyaan dari Kuldonk yang masuk ke blog ini. Coba kita sharing lagi nih, mengikuti anjuran pemerintah dengan aturan tower sharingnya :)

Pertanyaan yang harus kita jawab sebelum berbicara lagi tentang tower sharing yaitu, faktor apa saja yang dipertimbangkan operator dalam menentukan lokasi untuk pembangunan tower/roof top/monopole. Selain beberapa alasan yang pernah saya tulis yaitu kepadatan penduduk sekitar, harga lahan, izin pemerintah dan warga, faktor yang sangat diperhatikan adalah LOS terhadap site existing.

Faktor LOS ini sangat penting dan diperhatikan terutama di daerah padat/perkotaan karena sangat tidak efisien kalau kita menggunakan IDR untuk link Abis/PCMB dari BTS ke BSC mengingat biaya sewa 1 E1 IDR per bulan sangatlah mahal. Jadi ketika akan menyewa space tower, kita tetap memperhatikan apakah lokasi ini LOS terhadap site existing tau tidak. Jika misalnya saja tidak LOS dan tidak memungkinkan lagi membangun tower di lokasi itu, solusi selain link sewa IDR adalah dengan membangun repeater untuk menyambungkan ke jaringan existing. Tentu saja ini tidak efisien dan membuang biaya lumayan besar.

Namun demikian, belakangan ada banyak solusi interkoneksi yang dimiliki setiap operator sehingga operator bisa sedikit bernafas lebih lega. Selain transmisi radio lewat udara, link IDR (satelit), belakangan semakin banyak jaringa FO yang berhasil dibangun operator. Hal ini tentu sanggup meningkatkan kemampuan transmisi setiap operator karena kapasitas FO yang relatif besar, tapi jarang sekali link FO digunakan untuk link Abis/PCMB.

Belakangan ini operator incumbent cenderung meningkatkan kapasitas jaringan-nya dengan banyak membangun monopole di atas ruko-ruko, karena selain biaya investasi lebih murah, perizinannya juga lebih gampang. Monopole ini lebih ditujukan untuk meningkatkan kapasitas jaringan di daerah dengan traffic/revenue tinggi. Kalo di Jakarta biasanya di setiap perempatan yang sibuk dans ering macet operator memasang BTS micro ataupun monopole di sekitar perempatan lampu merah. Hal ini bertujuan untuk mengurangi blocking yang cenderung tinggi. Pelanggan di Jakarta cenderung menghabiskan waktu menunggu lampu merah dengan browsing internet,peluang ini dimanfaatkan dengan baik oleh operator dengan ramai-ramai menggelar jaringan di daerah padat lalu-lintas dan rawan kemacetan tersebut.

Kembali ke masalah LOS/tidak LOS, biasanya dalam survey penentuan lokasi, LOS survey juga dilakukan oleh vendor/subkon sebelum mengajukan beberapa titik kandidat ke operator untuk membangun BTS baru. Di sini, biasanya peran tools mapping sangat dibutuhkan. Tools Google Earth juga bisa digunakan untuk plotting titik sehingga bisa ditentukan lokasi titik ini terhadap jaringan existing.

Regards,

Riyantoro

Akhir-akhir ini banyak saya temui BTS yang memiliki blocking tinggi, baik GSM maupun DCS walaupun terkadang tidak semua sektor mengalami blocking. Kemungkinan jika yang mengalami blocking hanya BTS GSM atau DCS saja, kita bisa menggunakan mekanisme traffic sharing antara BTS GSM dengan BTS DCS atau sebaliknya dengan pengaturan parameter RXLEVAMI misalnya.

Sebenarnya apa aja sih yang bisa kita lakukan untuk menangani fenomena blocking ini, baik untuk meningkatkan CSR maupun untuk meningkatkan juga kenyamanan pelanggan dalam menggunakan jaringan kita? Hmm, mari kita telusuri bareng-bareng.

RXLEVAMI=6,

Minimum received level at the MS required for access to the
network on the RACH. It is used together with other parameters to
define the path loss criterion C1 for cell selection and reselection
(see parameter CELLRESH). Setting RXLEVAMI to a high value
means that only those MSs attempt an access to the cell which are in
a location with good coverage conditions. Thus the number of
handover requests may be reduced. This parameter is sent on the
BCCH (SYSTEM INFORMATION TYPE 3 and 4) in the IE Cell
Selection Parameters.

Note: If a PBCCH is configured (see parameter CREATE CHAN for
TCH with GDCH=PBCCH), an equivalent parameter is broadcast on
the PBCCH for GPRS mobiles to allow a separate management of
cell selection and cell reselection for GPRS- and non-GPRS-mobiles.
This parameter is GRXLAMI (see command CREATE PTPPKF).

Jujur, saya juga masih belajar memahami parameter BSC untuk settingan ini, mungkin ada yang bisa sharing di sini tentang mekanisme traffic sharing dalam jaringan GSM baik yang stand alone, co-located dengan DCS, atau bahkan co-located antara GSM-DCS-3G.

Dari pengalaman yang masih dangkal yang pernah saya alami, pertumbuhan network biasanya diawali dengan pemasangan BTS GSM dengan konfigurasi awal mungkin 2/2/2 atau langsung 4/4/4 sesuai dengan kepadatan dan prediksi traffic yang harus dilayani. Jika ternyata terjadi blocking cell atau dalam hal ini kapasitas jaringan sudah tidak mampu melayani kebutuhan pelanggan yang ditandai dengan susahnya orang melakukan panggilan, mengirim sms, maupun konek gprs, maka itu adalah saatnya untuk menambah kapasitas jaringan. Hal itu bisa ditempuh dengan cara expand BTS GSM ke 8/8/8 kalo blocking ada di ketiga sektor, atau menambahkan BTS DCS untuk meningkatkan kapasitas secara signifikan.

Jika pilihan jatuh ke penambahan BTS DCS, maka ada mekanisme yang harus ditempuh yaitu traffic sharing antara BTS GSM dan BTS DCS. Biasanya engineer Optim akan mengatur beberapa parameter di sisi BSC sehingga pelanggan yang ada di TA 3 akan dilayani oleh BTS GSM. Mungkin ini bukan mekanisme baku dan wajib diikuti tetapi karena BTS DCS menggunakan pita frekuensi yang lebih tinggi daripada GSM yang berakibat daya pancaran/jangkauan menjadi lebih sempit, maka akan lebih baik kalau GSM menghandle traffic yang memilik TA lebih besar.

Jika ada Node-B yang co-located dengan BTS GSM-DCS sekaligus, maka prioritas utama adalah jaringan 3G. Traffic akan diarahkan untuk menggunakan jaringan 3G jika memang RxLev yang diperoleh memungkinkan dan cukup bagus untuk melakukan akses jaringan. Urutan prioritas menjadi 3G–> DCS–> GSM. Karena tidak semua pelanggan menggunakan handset yang mendukung teknologi 3G dan mungkin ada juga yang tidak mengaktifkan network 3G, maka DCS tetap menjadi andalan untuk meningkatkan kapasitas sistem.

Jika sudah dilakukan traffic sharing dengan menambahkan BTS co-located tetapi blocking masih tinggi sedangkan tidak memungkinkan lagi untuk melakukan expand BTS, maka harus ditempuh mekanisme cell splitting. Cara ini dilakukan dengan menambah BTS di dekat BTS existing, tujuannya hanya untuk capacity upgrade, bukan coverage. Kita bisa mencari titik yang dekat dengan pemukiman yang memiliki potensi besar sebagai sumber traffic sehingga ada mekanisme traffic sharing dengan BTS existing.

Mungkin ini sekedar sedikit sharing, silahkan yang punya pengalaman lebih luas dan juga jago, ayo kita sharing ilmu…

Best Regards,
Riyantoro

[11:49] Me : so, saiki nunggu progress kompeni opo?
[11:50] Rekan Kuliah: gaji pas-pasan
[11:50] Rekan Kuliah: tapi kerep gajian yo podo wae
[11:50] Rekan Kuliah:
[11:50] Rekan Kuliah: saiki golek beasiswa sih
[11:50] Me : wew
[11:50] Me : ora koq..
[11:50] Me :
[11:50] Me : well, arep S2?
wah
[11:50] Me : angkatan e dewe akeh banget sing semangat S2
[11:50] Me : ckckckck
[11:50] Me : saluuuut…
[11:51] Rekan Kuliah: ho’o
[11:51] Rekan Kuliah: desi yo lg golek2


Petikan chatting sama temen kuliah di Bulaksumur dulu. Hmmm, kalo diinget-inget banyak juga temen yang tertarik untuk lanjutin study nih.. Koq bisa ya? Ckckck, secara aku saja males banget suruh lanjut S2 sama ortu hihihihi.

Yach, gelar S1 ini terasa sudah cukup untuk sekarang ini buat saya.. :D . Hmm, dah 17 tahun man aku sekolah.. hehehe. Rasanya masa kuliah 4 tahun kemarin sudah cukup dech, kalo harus kuliah lagi rasanya masih enggan, karena lebih tertantang untuk bekerja dulu. Walaupun apa yang dipelajari selama kuliah, mulai dari mata kuliah dengan dosen killer, sampe mata kuliah yang dosennya baek bener tapi tetep bikin stress karena bahan yang harus dipelajari ternyata susah setengah mati untuk dipahami hiks.

Itu masa perjuangan dahulu kala, sekarang ternyata perjuangan berlanjut dan masih harus belajar lagi. Ternyata dalam hidup ini proses belajar dan berubah harus terus dilakukan, diikuti. Sekarang siapa sangka kalau teman kuliah yang dulu malas-malasan ternyata begitu lulus langsung bisa dapet posisi bagus di oil kompeni besar dengan gaji 4-5 kali gaji gw? Siapa sangka kalo mereka bisa berubah ketika bekerja, dibandingkan dengan masa kuliah di mana mereka bermalas-malasan.

Well, apapun pilhanku dan teman-temanku sudah menjadi ketetapan hati dan harus diperjuangkan. Buat teman-temanku yang meneruskan S2, semoga sukses dan kelak setelah lulus bisa pulang ke Indonesia untuk membangun kembali negeri ini. Aku coba membangun network yang terbaik aja semoga bisa memberi fasilitas untuk berkomunikasi sehingga secara tidak langsung membuka akses ke daerah terpencil dan memajukannya.

Sukses buat kita semua!!!

Salam,

Riyantoro

Ceritanya, kemarin siang, Jum’at 13 Maret 2009 gw berangkat dari kantor untuk melakukan drive test di new on air site DCS punya ZTE. Katanya sih dah on air, jadi mau gw check performansi dan memastikan BTS baru ini tidak mengganggu network existing (NSN megang GSM). Karena letak BTS lumayan jauh (+ 3 jam perjalanan darat), aku putuskan untuk mengisi dompet dulu, karena stock cash menipis.

Ya, akhirnya coba cari ATM terdekat dech biar bisa cepat berangkat n bisa memburu Jum’at an buat driver. Entah kenapa, pas lewat di pompa bensin (SPBU) Jl Yos Sudarso, aku liat ada ATM BNI. Padahal biasanya aku lebih suka narik cash dari ATM BCA, tetapi entah kenapa hari itu kayaknya BNI aja yang diambil, karena yang terdekat cuman itu. Waktu masuk ke bilik ATM, sebenernya ada yang aneh karena ada suara tit tit semacam suara UPS yang kehilangan catuan AC input, tetapi karena agak terburu-buru jadi gak terlalu aku gubris. Singkat cerita aku langsung nentuin nominal cash yang akan kutarik yaitu gopek alias 500rebu. selesai transaksi, aku tinggal nunggu uang keluar dan terjadilah tragedi itu. Tiba-tiba saja tanpa aba-aba mesin ATM mati. Bener-bener mati man!!! Busyet!! Gw mulai panik nih, soalnya begitu mesin mati karena ternyata PLN di daerah itu padam, yang keluar cuman kartu ATM gw…..

Anj***t, gimana nih? Gw mencoba menenangkan diri dan menunggu beberapa saat berharap uang 500rebu gw keluar. Ternyata mukjijat itu tidak terjadi, mesin ATM tetep membisu gak mau mengeluarkan uangku. Panik dah… Akhirnya gw meluncur ke kantor bank Mandiri terdekat dan menggunakan link ATMBersama untuk mengambil uang karena memang butuh cash. Dan ternyata, kepotong euy duit gw. Aduh, duit kagak dapet tapi saldo tetap kepotong. Akhirnya coba nanya temen kantor di bagian keuangan yang sering berhubungan dengan bank, dan disuruh ke bank BNI aja dan komplain. Tapi it’s too late to go there. Kesiangan ntar berangkatnya keluar kota nih. Akhirnya aku telepon customer care online aja di 68888. Mas Melky yang mengangkat ternyata ga bisa memberikan solusi total. Dia cuman bisa menampung keluhanku dan menjanjikan 7 hari lagi akan memberi khabar. Ketika aku tanya apa duitku bisa balik? Dia gak berani mastiin. Duh, daripada ilang percuma begini mendingan buat makan-makan sama temen-temen dech…

Yach, semoga saja duitku bisa balik lah…. Btw, koq parah banget lagi transaksi mesin ATM mati??? Gimana sih BNI ini.. hehehe Keluhan pelanggan yang kecewa nih hihihihi. Ada temen-temen yang pernah mengalami hal serupa???

Salam,

NB:

Sebagai info, setelah ditunggu kurang lebih 30 hari setelah transaksi yang gagal tersebut, pihak bank sudah melakukan pengembalian nominal uang sejumlah transaksi yang gagal. Memang dibutuhkan kesabaran untuk menunggu uang kembali, tetapi saya sangat menghargai pengembalian uang tersebut karena memang berharga sekali. Semoga kejadian-kejadian yang kurang enak ini tidak terjadi lagi ke depan. Terima kasih BNI.

Kaledo II

Pertama menginjakkan kaki di tanah Sulawesi dulu, tepatnya di Makassar, makanan baru yang kukenal adalah Coto Makassar dan Palubasa (bener gak ya tulisannya :p). Intinya adalah makanan daging yang enak dan nikmat hehehe. Setelah singgah di Palu beberapa bulan, ada lagi makanan khasnya dan baru sekarang sempat aku ambil gambarnya.

Ini adalah makanan khas Palu, namanya Kaledo. Sebenernya sebagai orang Jawa, aku sendiri gak terlalu tau apa perbedaan Kaledo, Sop Saudara, ato Konro. Perasaan semua daging sapi juga. Cuman kalo Konro masih melekat di tulang sendangkan Sop Saudara sudah lepas dan ada campuran telur dan paru kadang hati sapi. Untuk makanan Kaledo ini, mungkin ada tambahan sumsum kali ya. Cuman saat dihidangkan masih tawar sehingga kita harus meracik sendiri dengan menambahkan garam dan kecap sesuka hati.

Kita makan Kaledo dengan ketupat, ato bisa juga dengan Burasa. Ada juga ubi kayu yang menemani. Overall, aku prefer Sop Saudara/Konro daripada Kaledo. Mungkin lidah orang beda-beda ya, karena aku liat mayoritas temen kantor lebih prefer Kaledo ini hehehe.

Kaledo, makanan khas Palu

Kaledo, makanan khas Palu

Herannya lagi di pulau ini, kalo makan apapun (untuk makan porsi besar ya bukan ngemil), pasti masyarakat di sini menggunakan jeruk nipis sebagai pelengkap dan penyedap kali. Lihat saja ketika aku makan di pecel lele (istilah di sini Mas Joko, mungkin mereka anggap semua orang dari Jawa yang jualan namanya Mas Joko hihihi), makan Kaledo, makan Sop Saudara/Konro, makan Soto (ini masih wajar karena di Jawa juga pake jeruk nipis). Entahlah mungkin selera ya hehe.

Jadi, ada yang punya cerita dan pernah makan Kaledo??

Tertarik untuk menikmati, silahkan datang ke Loli, Palu, Sulawesi Tengah!

Salam Hangat,

Riyantoro

Dunia Telekomunikasi?

Dunia telekomunikasi itu bukan hanya sekedar bekerja di operator dan vendor saja, ternyata kalau kita mau mendalaminya, masih banyak peluang usaha dan bidang yang bisa digeluti dengan baik dan hasilnyapun tidak kalah dengan orang yang bekerja di operator. Gak percaya? Coba kita simak bersama-sama yuuk…

Bagi kita yang punya motivasi tinggi untuk berkecimpung di dunia telekomunikasi, dan telah menghabiskan waktu kuliah untuk mempelajari apa itu Erlang A, Erlang B ataupun logical channel GSM, hmm ternyata ada banyak bidang dan celah dalam dunia telekomunikasi yang bisa kita masuki, baik sekedar untuk memperdalam ilmu, mencari pengalaman, hingga mencari pundi-pundi uang untuk biaya kawin sama pujaan hati hehehehe.

1. Operator
Ini adalah perusahaan dambaan banyak insinyur muda, tempat kerja yang menjadi idaman banyak sarjana telekomunikasi baik dari kampus negeri terkenal hingga yang kurang dikenal (semoga pernyataan ini tidak salah CMIIW ). Di sini karyawan bertindak sebagai penyelenggara jaringan telekomunikasi untuk customer langsung.

Engineer yang berkecimpung di sini bertugas untuk menjaga availability jaringan sehingga pelanggan bisa menggunakan jaringan untuk berkomunikasi voice maupun data dengan nyaman. Namun di samping tugas utama itu, ada banyak ilmu yang bisa diperoleh, tentunya karena bertindak sebagai pemilik perangkat telekomunikasi, engineer di sini memiliki kesempatan untuk mempelajari perangkat yang digunakan (NB: ini tidak berlaku untuk semua posisi, khusus untuk para engineer telekomunikasi saja ). Ada kalanya, engineer harus bisa juga melakukan instalasi perangkat sendiri, jika situasi mendesak dan tidak memungkinkan untuk menggunakan jasa pihak ketiga (baca vendor), maka engineer harus bisa meng-install sendiri perangkat telekomunikasi itu. Tidak kalah menantang adalah pekerjaan troubleshooting. Pekerjaan ini adalah pekerjaan gampang-gampang susah, karena jika masalah yang dihadapi tidak ketemu juga solusinya, maka bukan tidak mungkin kita akan merasa frustasi untuk mencari titik permasalahannya.

List Operator

List Operator

Di daerah, pekerjaan seorang engineer di sebuah operator telekomunikasi akan jauh berbeda dengan pekerjaan engineer sejenis di HQ (Head Quarter). Karena keterbatasan alat maupun sumber daya, di daerah terkadang engineer harus merangkap beberapa pekerjaan yang seharusnya tidak dilakukannya. Mungkin bidang administrasipun harus bisa dia kerjakan karena tidak adanya tenaga administrasi. Hal ini tentunya berbeda dengan engineer di kantor pusat.

2. Vendor
Ini bukan tidak mungkin menjadi pilihan pertama juga bagi para fresh graduate, karena di perusahaan vendor telekomunikasi seperti NSN, Ericsson, Huawei, ZTE, dsb, ilmu dan pengalaman yang ditawarkan tidaklah sedikit. Sudah bukan rahasia lagi kalau di perusahaan-perusahaan ini, ilmu telekomunikasi yang bisa kita peroleh sangat banyak. Di perusahaan ini kita bisa belajar instalasi perangkat, optimasi jaringan, hingga troubleshooting perangkat yang sudah ter-install. Mungkin sekilas tidak jauh berbeda dengan pekerjaan di operator ya? Namun ingat, bahwa vendor hanya bisa belajar 1 produk saja. Misalnya kita bekerja untuk vendor Ericsson, maka kita bisa mempelajari perangkat Ericsson hingga hafal luar kepala hehehe.

Loggo Vendor

Loggo Vendor

Untuk masalah gaji, hmmm, sudah jelas bekerja di vendor akan menawarkan gaji yang lebih besar dibandingkan bekerja di operator sekalipun, untuk posisi yang setara tentunya.

3. Kontraktor
Tidak bisa masuk menjadi karyawan dua pilihan emas di atas? Jangan kuatir, masih ada tempat untuk berkarya koq. Kontraktor adalah perusahaan yang mengerjakan proyek yang dimenangkan tendernya oleh sebuah vendor. Misalnya Ericsson memenangkan tender offer instalasi jaringan telekomunikasi untuk operator Telkomsel. Maka sebuah kontraktor A bisa menawarkan diri sesuai kemampuan dan kepiawaiannya untuk mengerjakan proyek bagi operator Telkomsel, tentu saja di bawah naungan vendor Ericsson.

Beberapa bidang yang biasa dikerjakan misalnya untuk instalasi BTS, instalasi Micro Wave (radio transmisi), Drive Test untuk optimasi jaringan, instalasi menara BTS baru, dll. Skala kontraktor relative besar, biasanya meliputi proyek dengan nilai yang besar, sehingga tidak jarang sebuah kontraktor merekrut kembali beberapa sub-kontraktor untuk mengerjakan proyek yang tendernya mereka menangkan.

4. Sub-Kontraktor
Sebuah perusahaan sub-kontraktor adalah perusahaan di bawah kontraktor yang mengerjakan proyek untuk kontraktor-kontraktor. Oleh karena itu, skala pekerjaan yang dilakukan relative lebih kecil. Ilmu yang kita peroleh di sini mungkin tidak sebanyak di vendor telekomunikasi, namun kita bisa mempelajari hingga sangat detail, pekerjaan yang kita geluti. Hal ini dikarenakan lingkup pekerjaan yang kita geluti relative lebih sempit sehingga kita bersifat berulang setiap kali kita mengerjakannya.
Contoh pekerjaan yang mungkin digeluti:
# Drive Test, biasanya hanya sebatas DT dan collecting data. Untuk analisa dan reporting dilakukan kontraktor atau vendor langsung.
# Instalasi Genset, biasanya hanya meliputi instalasi genset belum termasuk ATS dan perangkat otomatisasi lainnya.
# Instalasi MW (radio transmisi), sebatas instalasi perangkat tidak termasuk commissioning perangkat radio. Commisioning dilakukan oleh kontraktor.
# Instalasi BTS, sebatas instalasi rack. Instalasi modul dan commissioning dilakukan kontraktor.

5. Supplier
Menjadi supplier bersifat umum, tetapi perusahaan telekomunikasi sekalipun, membutuhkan supplier yang berkompeten dan cakap untuk memasok kebutuhan barang dan jasa guna menunjang kelangsungan hidup perusahaan. Barang yang biasanya di-supply untuk memenuhi kebutuhan operator telekomunikasi diantaranya:
• Spare part modul BTS
• Spare part modul radio
• Solar (BBM)
• Alat-alat kantor

Masih banyak barang dan jasa yang bisa kita supply ke sebuah perusahaan telekomunikasi, baik itu vendor maupun operator, tentu saja sesuai dengan kebutuhan masing-masing perusahaan tersebut.

6. Outsource
Sebuah perusahaan telekomunikasi baik vendor maupun operator pasti memerlukan tenaga outsource untuk membantu mengerjakan pekerjaan yang sifatnya administrative hingga teknis. Misalnya saja seorang admin, tenaga ini sangat dibutuhkan untuk membantu operasional dan kelangsungan kerja perusahaan. Tenaga bantuan teknis juga dibutuhkan untuk membantu operasional engineer di sebuah operator telekomunikasi dalam pekerjaan troubleshooting jaringan, hingga maintenance dan instalasi perangkat telekomunikasi.
Dari beberapa pilihan di atas, manakah yang paling cocok dan memungkinkan buat Anda untuk digeluti? Jangan takut, kalo kita ada di level 6, bukan berarti kita tidak bisa berpindah ke level lain koq. Cuman setiap pekerjaan pasti memiliki prasyarat dan ketentuan untuk bisa digeluti.

Ada beberapa rekan termasuk saya, yang memutuskan untuk memulai karir dari sebuah perusahaan kontraktor, atau lebih tepatnya sub-kontraktor untuk menimba ilmu dan pengalaman sekaligus menunggu panggilan dari operator/vendor telekomunikasi. Sebagai catatan, semakin besar perusahaan yang akan kita masukin, maka proses dan tahapan seleksi yang harus kita tempuh pun akan semakin panjang dan berbelit, kecuali untuk seleksi yang dilakukan di kampus yang biasanya menyeleksi lulusan terbaik sehingga seleksinya relative lebih singkat dan simple.

Strategi lainnya adalah dengan menjadi tenaga outsource di operator atau vendor untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya untuk kemudian resign ketika ilmu sudah cukup matang dan siap menerima tantangan yang lebih berat. Untuk tipe ini, yang saya temui terutama dunia RF Engineer, di mana ada beberapa rekan dan senior saya memilih menjadi outsource di XL atau menjadi staff RF Engineer Ericsson selama 1-2 tahun untuk kemudian menjadi expatriate di Timur Tengah sana. Sungguh menantang sekaligus menjanjikan pengalaman yang saya yakin sangat menggiurkan untuk kita semua.

Dunia Telekomunikasi, gak ada matinye….

NB: Ini sekedar sharing dan tidak mutlak menjadi patokan karena hidup adalah pilihan. Kalau ada pembaca yang masih punya beberapa tips dan pengetahuan mari kita sharing di sini. :)

Best Regards,
Riyantoro

Cerita ini bermula dari sini, lahan perkebunan kelapa sawit yang luas nan hijau. Di situlah para buruh bekerja menanam, memelihara, dan memanen kelapa sawit. Terpelosok, mereka tetap memerlukan akses keluar, lewat jalur telekomunikasi untuk berbisnis maupun merajut tali silaturahmi dengan kerabat yang ada di rumah/tempat tinggal asal.

Sebagai salah satu penyelenggara jaringan telekomunikasi terkemuka di Indonesia, menjadi tantangan tersendiri untuk menggelar jaringan telekomunikasi seluler di daerah terpencil seperti ini. Dari namanya, Combat Mamuang, sudah bisa bahwa BTS ini adalah sebuah Combat yang didesain untuk mobile. Namun untuk kasus Cobat Mamuang, BTS didirikan untuk memenuhi kebutuhan akses telekomunikasi para karyawan di Astra Agro, perkebunan kelapa sawit di daerah Sulawesi Barat. Pertama kali diinstall, Combat Mamuang menggunakan link IDR sehingga bisa langsung terhubung ke BSC, namun seiring perkembangan jaringan akhirnya ada juga link transmisi MW yang bisa menghubungkan BTS ini dengan BSC terdekat melewati teresstrial connection.

The Combat

The Combat

Nah, kemarin aku bertugas untuk melakukan CO Combat Mamuang ini ke BSC di kota terdekat. Aku harus mengurut dan melakukan crossconnect link dari BSC hingga ke BTS ini. Lumayan juga ada 5 hop yang harus dilewati, masing-masing dengan jarak yang lumayan jauh. Proses CO sendiri berjalan tidak sesuai rencana karena ada koordinasi yang kurang lancar dengan rekan-rekan Switching Operation. Terpaksa dech kerjaan di-fall back. Usut punya usut, ternyata rekan kerjaku di bagian MSS belum mengerjakan bagiannya karena mengira bahwa proses CO belum akan dilakukan dalam waktu dekat.

Ceritanya begini, malam jam 22.00, aku udah on site. Langsung saja aku commisioning ulang BTS ini untuk diintegrasikan dengan BSC yang baru. Jreng!! 15 menit kemudian aku sudah selesai dengan re-commisioning ku dan signal di ponsel Soner W200i ku pun sudah penuh. Hmm, lancar nih kayaknya. Aku coba dech untuk melakukan test call dengan pedenya. Lah, koq gak bisa nelpon?? Aduh keringat dinginpun mulai siap-siap menetes, seolah tak percaya ada step yang masih terlewat. Karena ada di lokasi di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit, maka BTS ini adalah BTS stand alone sehingga tidak ada sinyal lagi untuk melakukan koordinasi. Pusing dech akhirnya memulai proses troubleshooting dari step awal, kira-kira ada step yang terlewat nggak ya? Hmm, setelah dipikir-pikir semua step sudah dilaksanakan dengan benar, dan secara teori kalo ada kejadian seperti ini kemungkinan cuman LAC-CI BTS yang belum ter-create di sisi MSC.
Karena tidak bisa melakukan koordinasi lagi, terpaksa dech fall back kembali dengan re-commisioning BTS menggunakan link IDR kembali. Setelah sinyal kembali muncul di layar ponselku, ternyata memang benar belum dieksekusi di sisi MSS, hiks.. Astaga, kenapa belum dicreate bos, kemarin khan dah koordinasi lewat imel hiks..

Makan di site oi!

Makan di site oi!

Ini foto gw pas makan di site, terpaksa pesta kebun karena dah tengah malam dan tidak memungkinkan mencari warung terdekat. Untuk Pak penjaga site baik hati dan mengirimkan makanan. Makasih banyak Pak! hehehe. Akhirnya eksekusi CO baru dilakukan keesokan harinya, tepatnya jam 10.00. Cuman 10 menit hilang sinyal akupun berhasil memindahkan Combat Mamuang ke BSC baru. Semoga availabilitymu bisa meningkat dan tidak tergantung cuaca lagi sekarang! Memang selama ini IDR yang dipakai sering flicker apalagi kalau cuaca lagi “bagus-bagusnya”.

Sawit PSK

Sawit PSK

Ini akses jalan menuju site, perutku hampir kram dibuatnya. Gile memang, Ranger boleh saja melenggang dengan enak walaupun jalan tanah nan becek. Tapi perutku juga kagak tahan digoncang kesana kemari hahaha.

dsc01207

Baras mode on

Baras mode on

Ini pemandangan dari site Baras. Site di atas bukit dengan coverage 2 desa. Masih single fighter, tapi Indosat sudah siap-siap membangun tower karena perangkat sudah masuk dan material tower sudah sampai di lokasi. Gila juga akses naik ke BTS ini, menanjak 80 derajat kali. Lebih gila lagi, solar di site ini habis kecurian. Memang kurang ajar yang namanya pencuri, gak peduli pencuri apapun, paling menjengkelkan dan membuat pusing orang.

Ya, itulah sedikit cerita dari Mamuang. Tempat yang menarik dan sedang menggeliat untuk berkembang ke arah yang lebih baik.

Krisis energi listrik tidak hanya dialami daerah, bahkan ibukota Jakarta pun harus merelakan diri mengalami pemadaman bergilir. Bagaimana dengan daerah? Kita lihat saja berita yang beredar, betapa mengenaskannya kondisi listrik di tanah air, mulai dari daerah kota hingga pedesaan. Kondisi hampir mirip, pertumbuhan pelanggan listrik sangat pesat terkait dengan pola konsumtif masyarakat kita, tetapi PLN sebagai pemegang tunggal hak distribusi listrik di Indonesia tidak mampu menyediakan energi sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Di area saya bekerja sendiri, hampir 70% catuan BTS masih menggunakan genset. Bukan karena kita tidak mengajukan diri untuk berlangganan listrik PLN, tetapi karena setiap aplikasi pelanggan baru yang kami ajukan selalu ditolak mentah-mentah! Jangankan melayani 1 BTS kami yang rata-rata meminta sambungan 16kVA – 23kVA, hanya untuk menyalakan lampu milik warga saja PLN kewalahan. Hmm, lantas kenapa PLN tidak mencoba untuk membangun sumber energi listrik yang besar sehingga mampu melayani pelanggan seluruh tanah air dari pelsok desa hingga kota-kota besar? I don’t have any answer for this question…   :)

Dipetik dari detikinet:

Jakarta – Axis mulai mengoperasikan BTS pertamanya yang menggunakan tenaga surya. Penggunaan BTS ‘hijau’ ini dilakukan di Minas Barat, Riau.

BTS ini tidak memiliki asupan tenaga listrik dari PLN, karena itu digunakan 44 panel photovoltaic untuk menghasilkan total 8 kW tenaga listrik di saat cuaca cerah.

Energi matahari tersebut selanjutnya akan disimpan dalam baterai yang akan menjadi sumber energi saat malam hari atau cuaca berawan. Sistem ini diklaim tidak bersuara dan tidak mengakibatkan polusi.

Axis memperkenalkan sistem hemat energi dan sistem pendingin di semua BTS-nya yang ada di seluruh Indonesia untuk mengurangi penggunaan sumber daya dan produksi CO2. Efisiensi generator berbahan bakar solar sebagai tenaga cadangan telah dikembangkan dengan mengatur secara cermat waktu pengoperasian.

Tahun ini juga, AXIS akan memperkenalkan turbin angin untuk mendayagunakan tenaga angin yang tersedia di sebagian wilayah di Indonesia.

Untuk mencapai ambisi tersebut, Axis berpartisipasi dalam proyek global yang dikoordinir oleh GSM Association, yaitu The Green Power for Mobile Program, dimana Axis menjadi pembicara utama dan mendapatkan nominasi untuk Green Mobile Award di Mobile Asia Congress 2008 di Macau.

“Tujuan kami adalah membantu mengurangi penggunaan sumber tenaga nasional melalui solusi inovatif dan dalam jangka panjang kami berniat mengurangi jejak karbon dan sedapat mungkin meminimalkan kerusakan lingkungan,” ujar Muslim Khan, Chief Technology Officer AXIS dalam keterangan tertulisnya.

Hmmm, bagaimana dengan operator lain? Apakah sudah mengggunakan BTS “hijau” juga? TELKOMSEL sudah menggunakan banyak varian untuk mencatu perangkat BTSnya, termasuk menggunakan panel surya. Beberapa sumber energi lain yang digunakan yaitu mikrohydro, dan kincir angin. Walaupun energi yang dihasilkan masih sangat terbatas, tetapi ini menunjukkan kemauan operator telekomunikasi untuk mendukung program mengurangi Global Warming..

Untuk BTS yang menggunakan pembangkit tenaga surya (PLTS), biasanya menggunakan space yang cukup besar untuk menempatkan panel-panel surya yang akan mengkonversi tenaga cahaya matahari menjadi energi listrik untuk kemudian disalurkan ke beban dan sebagian disimpan di batere. Tentu saja karena memerlukan lahan yang tidak sempit, maka tidak semua BTS bisa diterapkan untuk menggunakan catuan dari sumber energi panel surya ini. Biasanya BTS yang jauh dari pemukiman di atas pegunungan (biasanya lebih banyak berupa repeater), yang menggunakan sumber energi ini karena catuan PLN yang belum tersedia dan mahalnya biaya untuk memobilisasi genset dan bahan bakarnya.

Bagaimana dengan sumber catuan lain, ada ide untuk mengurangi pemanasan global?

Best Regards,

Riyantoro

Older Posts »