Persaingan antar operator telekomunikasi seluler di tanah air kian hari kian sengit. Setelah XL berhasil mengkudeta Indosat dan menjadi operator terbesar nomor 2 di tanah air, dihitung dengan jumlah pelanggan terbanyak kedua setelah TELKOMSEL, maka persaingan untuk mengeruk revenue dari layanan telekomunikasi kian keras dan berdarah-darah
Untuk terus meningkatkan pelayanan kepada pelanggan selain dengan bermain tarif dan fitur, dibutuhkan ekspansi network secara kontinyu sehingga mampu mendukung pertumbuhan jumlah pelanggan dan juga mendukung perkembangan layanan yang disediakan. Oleh karena itu, operator mulai berpikir keras untuk menekan biaya pembangunan network baru, baik pembangunan BTS baru, maupun new collocated. Ada beberapa langkah penghematan dan pemangkasan biaya yang ditempuh masing-masing operator. Mulai dari modernisasi perangkat, swap perangkat eksisting dengan barand yang lebih murah, hingga me-manage service-kan pengelolaan networknya kepada vendor yang dipercaya
Dalam uraian singkat ini kita akan membahas tentang acara swap-swapan yang kian gencar dilakukan.
Seperti kita ketahui bersama, vendor penyedia perangkat BTS di tanah air yang terkenal dan banyak menyuplai perangkat ke operator di tanah air terdiri dari vendor EID, NSN, Alcatel, Motorola, Huawei, ZTE, Samsung. Secara garis besar keduanya bisa dibagi menjadi dua bagian berdasar negara produsen/asal vendor ybs. Vendor Eropa terdiri dari EID, NSN, dan ALU(merger Alcatel dan Lucent), sedangkan vendor Asia terdiri dari Huawei, ZTE, dan Samsung. Motorola sendiri merupakan vendor dari Amerika, namun di beberapa lokasi nasibnya sama dengan perangkat BTS ALU yang sudah punah dan diswap oleh perangkat vendor lain.
Bagaimana cerita swap antar vendor ini bisa terjadi? Usut punya usut, operator tanah air mulai mencari perangkat yang murah, murah dan murah. Ya, ini adalah konsekuensi logis dari permainan perang tarif, lagi-lagi korban perang tarif yang diprakarsai oleh XL 
Akibat perang tarif, mau tidak mau para operator harus berdarah-darah menurunkan tarif layanannya namun di sisi lain tetap mempertahan kualitas network dan juga tetap melakukan ekspansi, pengembangan networknya. Sungguh dilema, karena dengan adanya perang tarif otomatis revenue yang diperoleh mengalami pertumbuhan yang tidak sebesar ketika tarif masih normal, dengan asumsi pertumbuhan pelanggan yang sama. Dengan kata lain, jika sebelum perang harga operator hanya membutuhkan penambahan pelanggan baru sebanyak 1 juta pelanggan baru untuk menumbuhkan revenue baru sebesar 1M rupiah, maka setelah perang tarif dimulai, operator membutuhkan lebih banyak lagi pertumbuhan pelanggan baru. Angka di atas hanya asumsi untuk mendeskripsikan bagaimana perang tarif sudah mengubah segalanya.
Untuk mempertahankan pertumbuhan revenue dimaksud, maka operator wajib melakukan pemangkasan pengeluaran di sana-sini. Budget pembangunan network harus dihitung ulang, sehingga di sinilah peluang bagi vendor penyedia perangkat BTS dari Asia muncul. Mereka dengan cerdas masuk dan memberikan penawaran penyediaan perangkat yang murmer alias murah meriah. Bagaimana si operator tidak akan tergiur jika dengan budget yang sama untuk membeli 1 set BTS baru dari vendor Eropa ternyata jika dibelikan perangkat BTS milik vendor Asia bisa diperoleh 2 atau 3 set BTS baru lengkap, bahkan masih ditambah dengan free sparepart selama setahun?
Sungguh penawaran yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Dari situlah dimulai acara yang disebut dengan swap, swap, dan swap perangkat Eropa menjadi perangkat Asia
Di berbagai pelosok tanah air operator mulai gencar melakukan swap perangkatnya dari EID misalnya, diswap menjadi Huawei atau ZTE, atau juga NSN diswap ke ZTE/Huawei. Kedua vendor Asia ini memang mulai berjaya di dunia telekomunikasi tanah air, mereka berhasil meyakinkan para operator untuk menyingkirkan perangkat Eropa yang mahal itu, dan diganti dengan perangkat mereka yang rata-rata sudah memiliki kemampuan yang sama atau setara. Rata-rata perangkat Asia ini memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan perangkat Eropa, hanya saja karena harga yang lebih murah tentunya ada beberapa hal yang menjadi kekurangan dari perangkat tersebut, seperti ketahanan dan fitur yang kurang lengkap dibandingkan dengan perangkat Eropa.
Apa hal positif yang bisa diperoleh dengan adanya proyek swap besar-besaran ini? Tentu bagi para pencari kerja ini ada adalah proyek besar yang akan menyerap banyak tenaga kerja.
Ya, mau tidak mau karena network yang diswap relatif besar, maka membutuhkan tenaga kerja yang besar juga untuk mengerjakan proyek hingga berjalan dengan mulus. Tenaga kerja yang dibutuhkan mulai dari installer, commissioning, hingga optimasi network. Di sinilah tenaga kerja baik yang berpengalaman maupun yang akan mencari pengalaman akan sangat berperan
Dengan adanya proyek swap dan penggantian perangkat ini, tentunya akan memberikan dampak layanan kepada pelanggan. Dampak yang timbul mulai dari penurunan kualitas layanan dalam masa peralihan network, hingga perpu yang terjadi ketika proses swap berlangsung. Operator tentu menekan sang vendor untuk meminimalisir gangguan dan penurunan performa layanan networknya, tetapi tetap saja akan ada sedikit banyak outage dan degradasi kualitas layanan. Orang Optim akan bertugas untuk mengawal dan memperbaiki kualitas network sehingga pelanggan merasakan seminimal mungkin dampak dari swap perangkat tersebut.
Semoga dengan proyek swap-swap ini semakin membesarkan network telekomunikasi di tanah air sehingga bisa melayani pelanggan dengan lebih baik lagi.
Salam,
Riyantoro